Melangkah dengan Ragu, Disambut sebagai Keluarga
Dominggas mengisahkan awal perjalanannya di kampus Islam tersebut penuh dengan tanda tanya.
Ia sempat bertanya dalam hati, apakah perbedaan akan menjadi jarak, atau justru penghalang.
Baca Juga: Haji Tak Boleh Tersendat: Arab Saudi Kunci Ketat Transportasi Jemaah, Sanksi Bisa Seumur Hidup
Namun, yang ia temui justru sebaliknya.
Senyum ramah dan sikap inklusif menjadi bahasa pertama yang menyapanya.
Di UML, ia tidak ditanya tentang keyakinannya, melainkan diterima sebagai bagian dari keluarga besar kampus.
Toleransi yang Dihidupkan, Bukan Sekadar Slogan
Tak hanya Dominggas, banyak mahasiswa non-muslim—termasuk dari Papua—merasakan hal serupa.
Mereka menilai nilai keadilan dan toleransi benar-benar dijalankan dalam keseharian, bukan hanya menjadi jargon promosi.
Dominggas bahkan kerap dijuluki “mahasiswa Katolik Muhammadiyah”, sebuah sebutan yang baginya mencerminkan kehangatan relasi lintas iman di lingkungan kampus.
KKN dan Titik Temu Kemanusiaan
Pengalaman berharga juga ia temukan saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Alih-alih berdebat soal kebenaran, para mahasiswa justru belajar menghargai kesungguhan masing-masing dalam berbuat baik.
Ia menyadari bahwa jalan menuju kebaikan, meski berangkat dari tradisi yang berbeda, sering kali berujung pada tujuan yang sama: kemanusiaan.