Tak kalah penting, teman-teman seangkatannya di PWK 2021 menjadi tempat paling aman ketika ia merasa jatuh. “Mereka selalu menyemangati saya untuk bangkit lagi. Rasanya seperti punya keluarga baru di Jogja,” katanya penuh syukur.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Viral Anak Penjual Es Keliling Lolos ITB, Rumah Penuh Piala
Dari Semarang ke Jogja, Dari Individualis ke Kolaboratif
Lahir dan besar di Semarang, Kayla sudah menanamkan tekad untuk merantau dan belajar di UGM.
Salah satu alasannya adalah kekagumannya pada visi kampus yang berpihak pada masyarakat marginal, sejalan dengan tujuan Prodi PWK yang fokus pada pemerataan akses dan kualitas hidup lewat perencanaan spasial.
Pengalaman kuliah di PWK juga membentuk karakternya.
Dari yang awalnya pemalu dan individualis, ia kini terbiasa kerja tim, berkomunikasi, bahkan berani berbicara di depan umum.
“Dulu saya bukan tipe adventurous, tapi sekarang terbiasa turun lapangan: survei ke hutan, masuk kampung, bahkan mengendarai motor di jalur Pantura yang penuh truk.
Itu hal-hal yang dulu tidak pernah saya bayangkan, tapi justru membentuk diri saya sekarang,” jelasnya.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Viral Anak Penjual Es Keliling Lolos ITB, Rumah Penuh Piala
Pesan untuk Mahasiswa Lain
Untuk mahasiswa yang sedang berjuang, Kayla menitipkan pesan sederhana: miliki tujuan yang jelas, seimbangkan akademik dan non-akademik, serta jangan lupa berdoa.
Punya orang terpercaya, entah keluarga atau teman, untuk berbagi cerita juga penting. Evaluasi dari luar diri akan membantu menjaga keseimbangan hidup,” ujarnya.***