Tak berhenti di situ, Rifqi juga terlibat besar dalam riset kolaboratif Asia Tenggara berjudul “Crowdsource, Crawl, or Generate? Creating SEA-VL, a Multicultural Vision-Language Dataset for Southeast Asia.”
Ia berperan dari pengolahan data hingga penulisan naskah, membuatnya diganjar sebagai first author meski masih berstatus mahasiswa S1.
Tantangan, Dukungan, dan Harapan
Proses menuju ACL tidak mudah. Rifqi menghadapi keterbatasan sumber daya komputasi, tapi terbantu oleh research grant Boston University, serta Diversity and Inclusion Travel Grant dari Apple.
Perjalanannya ke Austria pun mendapat sokongan dari Monash University.
Meski sempat kewalahan, Rifqi mengaku pengalaman ini membuka matanya: bahwa riset bukan hanya soal publikasi, tetapi juga tentang peluang mengangkat budaya dan bahasa Indonesia ke kancah global.
Inspirasi dan Teladan untuk Generasi Muda Indonesia
“Riset itu menyenangkan, penuh peluang di akademik maupun industri. Saya berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berani terjun ke AI dan NLP,” kata Rifqi.
Ia bercita-cita melanjutkan studi S3 di universitas top dunia, lalu kembali membina generasi muda, terutama yang punya keterbatasan ekonomi, agar bisa berkembang di dunia teknologi.***