pendidikan

Cari Tahu, Ketinggalan Shalat Idul Fitri, Sunah Menambah Takbir Sendiri atau Tidak?

Sabtu, 29 Maret 2025 | 15:30 WIB
Warga Indonesia melakukan Salat Ied di 16 titik di Taiwan (RTI)

TITIKTEMU.CO, Di antara hal yang dianjurkan pada hari raya Idul Fitri ialah melangsungkan shalat Id. Hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan). Shalat Id disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Shalat Id kerap dilakukan oleh Rasulullah saw hingga beliau wafat.

Lantas dilanjutkan oleh para sahabat dan umatnya sampai sekarang. Adapun perihal syarat dan rukun shalat id ini sama halnya dengan pelaksanaan ibadah shalat fardhu dan sunah pada umumnya.  

Namun dalam praktiknya, shalat Idul Fitri cukup berbeda dengan shalat sunah lainnya. Saat melakukan shalat Idul Fitri disunahkan melakukan takbir sebanyak tujuh (7) kali pada rakaat pertama, serta takbir lima (5) kali pada rakaat kedua.

Kendati demikian, masih terdapat beberapa jamaah yang datang telat mengikuti pelaksanaan shalat Idul Fitri, sedangkan imam sudah beranjak membaca surat Al-Fatihah.   Di antara mereka masih banyak yang kebingungan dan bertanya-tanya, apakah saat tertinggal tak​​​​​bir dalam shalat Idul Fitri, makmum​​ disunahkan untuk membaca takbir sen​​​​​diri atau tidak?   

Baca Juga: Afdhal Mana Salat Id di Masjid atau di Lapangan? Hikmah Utamanya Berkumpul Menyatakan Rasa Syukur

Menurut ketetapan ilmu fiqih, saat seseorang tertinggal takbir akibat telat mengikuti pelaksanaan shalat Idul Fitri maka ia tidak disunahkan menambahi takbir sen​​​​diri​ atau membacanya. Sebab tempat disunahkan takbir adalah sebelum imam membaca surat Al-Fatihah. Hal ini selaras dengan pendapat yang diutarakan oleh Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’isyan (wafat 1270 H) dalam kitabnya:  

وَوَقْتُ الْتَّكْبِيْرَاتِ الْمَذْكُوْرَةِ (بَيْنَ الْإِسْتِفْتَاحِ وَالْتَّعَوُّذِ) فَلَوْ تَرَكَهَا وَلَوْ سَهْوًا، وَشَرَعَ فِيْ الْتَّعَوُّذِ، أَوْ فِيْ قِرَاءَةِ الْسُّوْرَةِ قَبْلَ الْفَاتِحَةِ .. لَمْ تَفُتْ، أَوْ فِيْ الْفَاتِحَةِ هُوَ أَوْ إِمَامُهُ قَبْلَ تَمَامِ الْمَأْمُوْمِ الْتَّكْبِيْرَاتِ الْمَذْكُوْرَةِ .. فَاتَتْ؛ لِفَوَاتِ مَحَلِّهَا، فَلاَ يَتَدَارَكَهَا  

Artinya: “Waktu takbir yang telah disebutkan ialah antara bacaan iftitah dan ta’awudz. Apabila ia meninggalkannya meski dalam kondisi lupa, lantas beranjak membaca ta’awudz atau membaca surat sebelum bacaan Al-Fatihah, maka kesunahan takbir tersebut tidak hilang. Jika seseorang meninggalkan takbir dan mulai membaca surat Al-Fatihah atau imam sudah beranjak membaca Al-Fatihah sebelum makmum menyempurnakan takbir, maka hilanglah kesunahan takbir. Sebab waktu takbir sudah hilang dan tidak perlu melakukan takbir susulan.” (Sa’id bin Muhammad Ba’isyan, Busyral Karim bi Syarhi Masailit Ta’lim, [Jeddah: Darul Minhaj], halaman 424).  

Setelah ditelusuri, ternyata argumentasi yang dibangun oleh fuqaha yang menyatakan tidak disunahkan untuk menambahi takbir kembali ialah, sebab bila imam sudah membaca surat Al-Fatihah sedangkan makmum malah beranjak membaca takbir, maka akan terjadi mukhalafah (perbedaan perbuatan​​​​​​ yang dilakukan oleh imam dan makmum) yang tidak diperkenankan saat melakukan shalat secara berjamaah.

Baca Juga: Sidang Isbat Idul Fitri 2025 Digelar 29 Maret, Kenapa Tidak Ada Pantauan Hilal di Bali?

Padahal imam harus diikuti oleh makmum dalam segala aspek, sebagaimana disampaikan dalam hadits:

  إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ  

Artinya: “Sesungguhnya tujuan imam didirikan ialah untuk diikutii, maka janganlah kalian berbeda dengannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).   

Mengenai hal tersebut, pemuka mazhab Syafi’i Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974 H) memberikan penjelasan yang cukup gamblang:   

 وَلَوْ نَسِيَهَا أَوْ تَعَمَّدَ تَرْكَهَا كَمَا عُلِمَ بِأَوْلَى (وَشَرَعَ) فِي التَّعَوُّذِ لَمْ تَفُتْ أَوْ (فِي الْقِرَاءَةِ) وَلَوْ لِبَعْضِ الْبَسْمَلَةِ أَوْ شَرَعَ إمَامُهُ وَلَمْ يُتِمَّهَا هُوَ (فَاتَتْ) لِفَوَاتِ مَحَلِّهَا فَلَا يَتَدَارَكُهَا وَيُفَرَّقُ بَيْنَ مَا هُنَا وَعَدَمِ فَوَاتِ نَحْوِ الِافْتِتَاحِ بِشُرُوعِ الْإِمَامِ فِي الْفَاتِحَةِ بِأَنَّهُ شِعَارٌ خَفِيٌّ لَا يَظْهَرُ بِهِ مُخَالَفَةٌ بِخِلَافِهَا، فَإِنَّهُ شِعَارٌ ظَاهِرٌ لِنَدْبِ الْجَهْرِ بِهَا وَالرَّفْعِ فِيهَا كَمَا مَرَّ فَفِي الْإِتْيَانِ بِهَا أَوْ بِبَعْضِهَا بَعْدَ شُرُوعِ الْإِمَامِ فِي الْفَاتِحَةِ مُخَالَفَةٌ لَهُ  

Halaman:

Tags

Terkini