nasional

Tragedi Kanjuruhan: 2 orang terdekat Elmiati terenggut nyawanya. 'Mereka terus menembak dan menembak'

Senin, 10 Oktober 2022 | 18:27 WIB
Muhamad Virdy Prayoga, foto bersama orang tuanya, Elmiati dan Rudi Hariyanto, sebelum pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan berakhir ricuh (pic/ Elmiati/washington post)

TITIKTEMU.CO - Banyak anak-anak meninggal dalam bencana di Stadion Kanjuruhan. Salah-satunya, anak yang masih berusia 3 tahun. Itu adalah pertandingan sepak bola yang ketiga kali disaksikannya.

Muhamad Virdy Prayoga, 3 tahun, baru saja mengenal permainan ini. Dia telah menonton pertandingan sepakbola pertamanya beberapa bulan yang lalu dengan orang tuanya.

Dan pada hari Sabtu, 1 Oktober 2022, dia memasuki Stadion Kanjuruhan dengan lebih dari 40 ribu lainnya untuk menonton pertandingan derby terbesar kedua di Indonesia. Arema FC, tim tuan rumah yang bermarkas di Malang  berhadapan dengan Persebaya Surabaya, saingannya dari Jawa Timur.

Baca Juga: Perkembangan dan Pengasuhan Anak dalam Perspektif Budaya Jawa

Aisyah Llewellyn dan Rebecca Tan menulis di Washington Post terbitan 5 Oktober 2022, mengenai Tragedi Kanjuruhan itu. Penulisan liputan itu, atas kontribusi dari Tan yang melaporkan dari Singapura dan Winda Charmila di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ditulis Washington Post, Virdy berdiri di kursinya sebelum kick off. Virdy mengenakan syal Arema di lehernya yang membentang hingga ke mata kaki.

Ibunya, Elmiati, 33 tahun, menyalakan ponselnya untuk merekam video dan Virdy tersenyum lebar ke arah kamera, matanya bersinar kegirangan. Dia mencintai Arema FC, dia suka menonton para pemain jauh di atas lapangan. Dan dia senang menjadi bagian dari kerumunan.

Baca Juga: Ini sejumlah prestasi Hendi, sehingga dipercaya Jokowi pimpin LKPP

Tetapi ketika kekacauan terjadi di Stadion Kanjuruhan malam itu, yang berpuncak menjadi salah satu bencana acara olahraga paling mematikan di dunia, kerumunan itulah yang membawa Virdy menjauh dari ibunya.

“Kami tidak tahu apa yang terjadi,” kata Elmiati tentang penyerbuan itu. “Orang-orang terus mendorong dan mendorong.”

Seiring berlanjutnya dampak dari tragedi tersebut, dibilang salah satu angka yang paling memilukan adalah jumlah anak yang dilaporkan tewas. Awalnya, pejabat mengatakan ada 17, tetapi pada hari Rabu, Wiyanto Wijoyo, Kepala Dinas Kesehatan Malang, mengatakan kepada The Washington Post itu, jumlahnya meningkat dua kali lipat menjadi 40 orang.

Baca Juga: Dilantik sebagai Kepala LKPP, Wali Kota Semarang ini akan dorong produk UMKM masuk e-Katalog

Menurut surat keterangan kematian dari rumah sakit setempat, tambahnya, total ada 131 kematian.

Sabtu, usai pertandingan yang menelan kekalahan Arema, sekelompok suporter Arema menyerbu lapangan dan mencoba mendekati pemain.

Halaman:

Tags

Terkini