nasional

Kemenag Sebut Ada Potensi Perbedaan Awal 1 Ramadhan 1443 H, Begini Penjelasannya

Kamis, 31 Maret 2022 | 23:04 WIB
Ada Potensi Perbedaan Awal 1 Ramadhan 1443 H. Ilustrasi) (kemenag.go.id)

TITIKTEMU.CO, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) mengakui ada potensi terjadinya perbedaan 1 Ramadhan 1443 Hijriah yang akan ditetapkan pemerintah dan awal Ramadhan yang diumumkan Muhammadiyah.

Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Adib mengatakan, hal itu terjadi karena pendekatan yang digunakan berbeda dalam menentukan awal Ramadhan.

“Tentu ada pendekatan yang berbeda dalam hal penetapan awal bulan Ramadhan, salah satu di antaranya ada menggunakan pendekatan ilwa hisab atau pendekatan hisab secara murni,” kata Adib dalam diskusi bertajuk “Persiapan Ibadah dan Pangan Jelang Ramadhan”, yang diselenggarakan secara virtual Senin (28/3/2022).

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 1 Ramadhan 1443 Hijriah pada Tanggal 2 April 2022. Versi Pemerintah Kapan?

Adib mengatakan, terkait perbedaan 1 Ramadhan tersebut, Kemenag akan melakukan sidang Isbat bersama organisasi-organisasi Islam dan majelis ulama.

“Pada hari rukyat, 29 Syakban 1443 H, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk, berkisar antara 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit,” kata Adib.

Lebih lanjut, Adib mengatakan, 1 Ramadhan akan bergantung pada hasil laporan para petugas yang melakukan proses pengamatan terhadap keberadaan hilal.

Baca Juga: Piala Dunia 2022 Qatar: Meksiko Lolos ke Putaran Final FIFA World Cup 2022 setelah Menang 2-0 atas El Salvador

“Jadi nanti pada saat sidang Isbat itu kita akan menentukan terkait dengan awal bulan Ramadhan 1443 Hijriyah, apakah kemudian jatuh pada jatuh tanggal 2 April atau di tanggal 3 April,” ujarnya.

Hal yang sama diungkap oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan ada potensi awal puasa 2022 tidak bersamaan.

Peneliti bidang Astronomi dan Astrofisika, Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin menyampaikan ketinggian hilal pada 1 April 2022 hanya sedikit di atas 2 derajat, terlalu rendah untuk diamati.

Baca Juga: Menyoal Kasus “Profesor Gadungan”, Ini Syarat Pemberian Gelar Profesor, Tidak Bisa Dilakukan Asal-asalan

“Hilal tidak mungkin terlihat di wilayah Indonesia pada 1 April mendatang, artinya jika hilal tidak terlihat pada 1 April, maka jumlah hari pada bulan Syaban tahun ini akan digenapkan menjadi 30 hari.” kata Thomas, dikutip TITIKTEMU.CO dari situs dari lapan.go.id.

Selain itu, Thomas juga meragukan adanya laporan hilal di 1 April 2022 dan berpotensi ditolak saat sidang isbat.

Halaman:

Tags

Terkini