Di Eropa, fenomena tersebut berlangsung pada Jumat, 28 Agustus dini hari, menjelang matahari terbit. Beberapa wilayah Eropa, Afrika, dan Timur Tengah bahkan akan mengalami fase blood moon ketika Matahari sudah terbit.
Perbedaan waktu inilah yang membuat satu fenomena langit bisa menjadi tontonan besar di satu negara, tetapi sama sekali tidak terlihat dari negara lain.
Kenapa Bulan Bisa Berwarna Merah?
Lalu, dari mana sebenarnya istilah blood moon berasal?
Baca Juga: Perbandingan Frank Rijkaard Destroyer Vs Anchorman di eFootball, Mana yang Lebih Unggul?
Sebutan tersebut digunakan ketika Bulan berada dalam bayangan umbra Bumi saat gerhana bulan total. Menariknya, Bulan tidak benar-benar berubah warna karena sesuatu yang terjadi di permukaannya.
Warna merah muncul karena cahaya Matahari masih bisa melewati atmosfer Bumi sebelum mencapai Bulan. Atmosfer menyaring sebagian cahaya dengan panjang gelombang tertentu, sementara cahaya merah lebih mampu menembus dan kemudian menerangi permukaan Bulan.
Akibatnya, Bulan yang seharusnya tampak terang justru terlihat merah tembaga atau kemerahan. Efek inilah yang membuat gerhana bulan total sering disebut blood moon.
Sayangnya, kali ini masyarakat Indonesia harus cukup puas melihat dokumentasi dari negara lain. Untuk menyaksikan fenomena langit secara langsung, kita masih perlu menunggu kesempatan berikutnya ketika posisi dan waktu gerhana lebih bersahabat dengan langit Indonesia.***