Ia menyerahkan sepenuhnya proses pengambilan keputusan kepada para kiai, jajaran Syuriyah, serta muktamirin yang membawa mandat dari akar rumput Nahdliyin.
Menurutnya, keputusan mengenai masa depan NU harus lahir dari pertimbangan yang jernih dan tidak didikte oleh kepentingan politik dari luar organisasi.
Gus Miftah juga menegaskan bahwa pandangannya tersebut disampaikan sebagai seseorang yang mencintai NU dan tidak menjadi bagian dari tim sukses kandidat mana pun.
Ia berharap NU ke depan dapat semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan yang berada di depan mata warga Nahdliyin.
Pada akhirnya, Gus Miftah menilai sikap pemerintah yang memilih menjaga jarak secara proporsional dari proses internal NU merupakan bentuk penghormatan terhadap organisasi dan para ulama.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak di luar NU maupun mereka yang memiliki kepentingan tertentu agar tidak menjadikan nama Istana sebagai alat untuk memperbesar pengaruh dalam Muktamar.***