Menurutnya, klaim semacam “sudah mendapat restu Istana” atau “merupakan titipan pusat” bukan hanya berpotensi menyesatkan publik, tetapi juga dapat merusak kehormatan NU dan para ulama.
Ia juga mengingatkan agar pihak-pihak yang sengaja menyebarkan isu mengenai intervensi Istana tidak memperkeruh suasana menjelang Muktamar.
Menurut Gus Miftah, forum yang mempertemukan para ulama dan perwakilan warga NU tersebut jangan sampai berubah menjadi arena perebutan pengaruh politik praktis.
Soroti Ambisi dalam Perebutan Kepemimpinan NU
Dalam pandangannya, Gus Miftah juga mengingatkan pentingnya kapasitas dan rekam jejak seseorang sebelum mencalonkan diri dalam kepemimpinan organisasi sebesar NU.
Baca Juga: Kapal Bawa 1,3 Ton Ketamin Digagalkan di Perairan Bintan, 8 ABK Diamankan Tim Gabungan
Ia menilai jabatan di NU bukan sesuatu yang semestinya dikejar semata-mata karena ambisi pribadi. Kepemimpinan, menurutnya, merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan semangat khidmah atau pengabdian.
Gus Miftah kemudian mengutip pesan yang terdapat dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari:
“Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu.”
Pesan tersebut secara umum bermakna bahwa orang yang terlalu berambisi mengejar kepemimpinan justru berpotensi mendapatkan kehinaan.
Menurut Gus Miftah, tradisi pesantren mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang semata-mata diperebutkan, melainkan amanah yang harus diterima dan dijalankan berdasarkan kapasitas, tanggung jawab, serta niat pengabdian.
Ia mengingatkan bahwa seseorang yang merasa belum memiliki kemampuan memadai tetapi tetap memaksakan diri dengan mengandalkan klaim dukungan dari pihak tertentu justru dapat kehilangan kepercayaan dan wibawa di hadapan para ulama.
Muktamar NU Diharapkan Berjalan Bersih dan Bermartabat
Gus Miftah berharap Muktamar NU ke-35 di Tambakberas dapat berlangsung dalam suasana yang penuh kegembiraan, bermartabat, serta terbebas dari transaksi kepentingan.