Baca Juga: 833 Dapur MBG Ditutup Permanen, Ada Apa di Balik “Bersih-Bersih” BGN?
IPCC menyebut panas sebagai risiko kesehatan yang semakin penting di perkotaan, sementara efek urban heat island dapat membuat suhu di kota lebih tinggi lagi. Kelompok tertentu seperti lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan masyarakat berpenghasilan rendah termasuk yang lebih rentan.
Jadi, Jakarta 2030 mungkin bukan sekadar kota yang lebih sering menghadapi cuaca ekstrem. Ia juga bisa menjadi kota yang terasa semakin melelahkan untuk menjalani aktivitas sehari-hari jika adaptasi tidak mengejar perubahan lingkungan.
Haruskah Warga Jakarta Mulai Panik?
Tidak. Justru kepanikan bukan respons yang paling berguna.
Baca Juga: Bukan Perlakuan Khusus, Ini Menu Sarapan Febrie Adriansyah Selama di Rutan KPK
Yang lebih masuk akal adalah mulai berpikir seperti orang yang sedang membeli rumah untuk 20 tahun, bukan sekadar mencari tempat tinggal untuk dua tahun.
Lokasi rumah, elevasi, akses transportasi, kualitas drainase, ketersediaan air, risiko banjir, hingga kondisi lingkungan sekitar bisa menjadi pertimbangan yang semakin penting.
IPCC sendiri menekankan bahwa risiko perkotaan muncul dari pertemuan antara bahaya iklim, kerentanan masyarakat, dan kondisi pembangunan kota.
Jadi, pertanyaan “apakah Jakarta masih bisa ditinggali?” mungkin terlalu sederhana.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagian Jakarta yang mana, tinggal seperti apa, dan seberapa siap kita menghadapi kota yang terus berubah?
Lima tahun memang terasa jauh. Tetapi untuk sebuah kota, lima tahun sebenarnya hanya sebentar.***