TITIKTEMU.CO-Harga emas dunia belum benar-benar menemukan tempat untuk berhenti. Pekan depan, logam mulia ini diperkirakan masih bergerak liar, dengan peluang terkoreksi sekaligus kesempatan untuk kembali naik.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, melihat sejumlah sentimen besar akan menjadi penggerak harga emas dunia. Mulai dari ketegangan geopolitik, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, hingga perang dagang, semuanya berpotensi membuat pasar bergerak lebih cepat dari perkiraan.
Ada Ruang untuk Harga Emas Turun
Jika tekanan jual kembali muncul, Ibrahim memperkirakan area US$3.968 per troy ounce menjadi support pertama yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Dulu Ditolak Jadi Pramugari, Perempuan Papua Ini Malah Membawa Pulang Lisensi Airbus A320
Apabila level tersebut tidak mampu menahan pelemahan, harga emas dunia berpotensi melanjutkan penurunan menuju support berikutnya di US$3.871 per troy ounce.
Namun, skenarionya tidak melulu merah. Pasar emas masih punya peluang untuk berbalik arah apabila sentimen positif kembali muncul.
Ibrahim memperkirakan resistance pertama berada di US$4.148 per troy ounce. Jika level itu berhasil ditembus, harga emas dunia berpotensi mengincar resistance berikutnya di US$4.240 per troy ounce.
Dengan kata lain, pekan depan bukan waktunya melihat emas hanya dari satu sisi. Ada ruang untuk turun, tetapi pintu untuk kembali menguat juga masih terbuka.
Geopolitik Bisa Membuat Pasar Makin Gelisah
Salah satu sumber ketidakpastian datang dari geopolitik. Konflik di Timur Tengah disebut semakin melebar setelah muncul serangan Houthi terhadap bandara di Arab Saudi.
Situasi di kawasan lain juga tidak kalah panas. Ukraina disebut menyerang kapal yang membawa persenjataan dari Rusia menuju Iran di Laut Kaspia. Jika ketegangan tersebut terus meluas, pasar global berpotensi kembali mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Di saat yang sama, perang dagang antara Amerika Serikat dan sejumlah negara mitranya turut menjadi perhatian. Kebijakan tarif yang berada di kisaran 10%-12,5% dinilai bisa menambah tekanan terhadap perekonomian global.