Eddy Junarsin, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, punya pandangan berbeda soal kondisi yang viral itu.
Menurutnya, fenomena mal ramai dan kafe penuh di Indonesia belum tentu merupakan lipstick effect dalam pengertian yang sesungguhnya. Lipstick effect, kata Eddy, adalah aktivitas semu untuk menutupi kondisi yang sebenarnya. Sementara yang terjadi di Indonesia saat ini lebih tepat disebut sebagai cerminan gaya hidup yang sudah mengakar.
"Kebiasaan masyarakat tidak bisa berubah begitu saja meskipun keadaan ekonomi berubah," jelasnya. Inflasi impor naik akibat pelemahan Rupiah pun tidak serta-merta mengubah perilaku seseorang yang sudah terbiasa nongkrong di kafe setiap akhir pekan.
Ini bukan soal denial terhadap kondisi ekonomi. Ini soal bagaimana gaya hidup sudah menjadi identitas — sesuatu yang tidak bisa dilepas semudah mengganti baju.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Di sinilah bagian yang paling penting dan justru jarang dibahas.
Eddy mengingatkan bahwa pelemahan Rupiah seharusnya dibaca bukan hanya sebagai ancaman, tapi juga sebagai peluang — terutama bagi mereka yang bergerak di sektor berorientasi ekspor. Ketika Rupiah murah, produk lokal justru lebih kompetitif di pasar global.
Selain itu, ia menekankan pentingnya investasi pada diri sendiri: bukan sekadar membeli kopi estetik untuk konten Instagram, tapi mengasah kemampuan yang tidak mudah digantikan oleh AI.
Di era kecerdasan buatan yang terus berkembang, soft skills dan kemampuan komunikasi yang kuat justru akan semakin langka dan berharga.
Baca Juga: Prabowo Teken Aturan Baru: Ekspor Sawit dan Batu Bara Kini Wajib Lewat BUMN — Apa Artinya bagi Kita?
Jadi, lain kali kamu antre kopi di tengah rupiah yang melemah, tidak perlu merasa bersalah — tapi juga jangan lupa bertanya pada diri sendiri: apakah gaya hidupku sedang membangun masa depan, atau sekadar melarikan diri dari kenyataan?
Karena ada perbedaan besar antara menikmati hidup dan menutup mata dari kondisi yang sebenarnya.***