Bahkan lebih dari 1.200 potensi kendala konstruksi berhasil diidentifikasi lebih awal sebelum menjadi masalah besar.
Keunggulan lain dari metode ini adalah pembangunan jalur layang di atas jalan tol aktif tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu arus kendaraan di bawahnya.
Ini menjadi bukti bahwa proyek besar tetap bisa berjalan dengan mengutamakan keselamatan publik.
Jika rampung nanti, jalur Velodrome–Manggarai akan memperkuat konektivitas transportasi Jakarta.
Warga dari Kelapa Gading, Jakarta Timur, hingga pusat kota akan memiliki pilihan perjalanan yang lebih cepat tanpa harus terjebak macet panjang setiap hari.
Selain mempersingkat waktu tempuh, kehadiran LRT juga diharapkan membantu menekan penggunaan kendaraan pribadi.
Baca Juga: Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal: Kini Jadi Klinik Longevity untuk Hidup Lebih Panjang dan Sehat
Dampaknya bukan hanya lalu lintas yang lebih lancar, tetapi juga kualitas udara yang lebih baik.
Proyek senilai Rp4,1 triliun ini juga membawa misi besar menuju kota rendah emisi.
Dengan semakin banyak warga beralih ke transportasi umum, target pengurangan karbon dan konsep net zero emission akan lebih realistis dicapai.
Menariknya lagi, inovasi pembangunan proyek ini mendapat pengakuan internasional. Waskita Karya masuk finalis Bentley’s Going Digital Awards in Infrastructure 2025 di Amsterdam berkat penerapan teknologi digital dalam pembangunan LRT Jakarta.
Kini masyarakat tinggal menunggu tahap akhir penyelesaian.
Saat LRT Jakarta Fase 1B resmi beroperasi nanti, wajah transportasi ibu kota dipastikan akan semakin modern, cepat, dan ramah lingkungan.***