Jika sebelumnya NTP berada di kisaran 100–102, kini rata-rata telah mencapai angka 125.
Dengan NTP 125, petani tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga memiliki ruang untuk berinvestasi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Dadan bahkan optimistis angka tersebut bisa terdorong hingga 150 seiring berjalannya program.
Perputaran Uang Lebih Cepat dan Merata
Selain sektor pertanian, perputaran dana MBG juga berdampak pada sektor pangan, distribusi, hingga usaha kecil menengah.
Banyak pelaku usaha melaporkan bahwa likuiditas di lapangan kini lebih mudah diperoleh karena aliran dana yang konsisten.
Skema distribusi langsung ke SPPG dianggap membuat efek ekonomi terasa lebih cepat di masyarakat.
Dana tidak berhenti di birokrasi, melainkan langsung digunakan untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, dan mendukung rantai pasok lokal.
Model Baru Pengelolaan Anggaran
BGN menyebut pendekatan ini sebagai model baru pengelolaan anggaran negara yang berorientasi langsung pada masyarakat.
Program MBG tidak hanya menyasar isu gizi, tetapi juga memperkuat ekonomi daerah melalui belanja terdesentralisasi.
Dengan ribuan dapur aktif dan ratusan triliun rupiah yang berputar, program ini menjadi salah satu intervensi fiskal terbesar yang pernah dijalankan di awal tahun.
Ke depan, efektivitas dan pengawasan program tetap menjadi perhatian publik.
Namun satu hal yang pasti, perputaran Rp 500 juta per 12 hari di tiap SPPG telah menciptakan denyut ekonomi baru dari Sabang sampai Merauke.***