Akses jalan yang rusak serta lokasi desa yang terpencil disebut menjadi salah satu kendala distribusi. Namun, warga menilai masalah itu seharusnya bisa diantisipasi dengan pengerahan sumber daya sejak awal.
Baca Juga: Bencana Sumatera: Lebih dari 1000 Orang Meninggal
Sorotan dan Kritik Publik
Aksi pengibaran bendera putih di Aceh menuai reaksi luas di media sosial. Banyak warganet menyampaikan empati, sekaligus melontarkan kritik tajam terhadap respons pemerintah yang dinilai kurang sigap.
Sejumlah komentar di platform X menyoroti kontras respons negara terhadap isu-isu simbolik dibandingkan penderitaan nyata masyarakat korban bencana.
Publik mempertanyakan klaim bahwa situasi sudah terkendali, sementara di lapangan warga masih kelaparan dan hidup dalam ketidakpastian.
Masyarakat menuntut negara hadir tidak hanya dalam pernyataan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh korban.
Baca Juga: Dark Triad Personality, Pejabat di Tengah Bencana: Berhenti Cari Perhatian!
Harapan kepada Pemerintah
Dengan mengibarkan bendera putih, warga Aceh berharap pemerintah pusat segera meningkatkan status penanganan bencana dan mempercepat koordinasi lintas lembaga.
Tambahan logistik, tenaga medis, air bersih, serta alat berat untuk membersihkan sisa lumpur dan memperbaiki akses jalan menjadi kebutuhan mendesak.
Selain bantuan darurat, warga juga berharap adanya rencana pemulihan jangka menengah dan panjang. Banjir tidak hanya merusak rumah, tetapi juga memutus mata pencaharian.***