Kepala DKP Jateng Endi Faiz Effendi menjelaskan partikel lumpur tersuspensi menempel pada insang ikan, menghambat pertukaran oksigen, dan memicu kematian massal.
“Ikan itu seperti tercekik,” katanya.
Baca Juga: Pantura Jateng Lumpuh: Semarang–Demak Terendam, Pemerintah Sampai ‘Kendalikan’ Hujan dari Langit
Bayangan Proyek Tol yang Melingkari Laut
Lokasi ribuan bangkai ikan berada tepat di dalam area konstruksi Tol Semarang–Demak, serta proyek tanggul laut yang membentang dari Sayung hingga Semarang.
Di wilayah itu, penimbunan, pengerukan, dan pembuangan lumpur dilakukan hampir setiap hari.
Aris Ismanto, dosen Oseanografi Universitas Diponegoro, menjelaskan hubungan erat antara konstruksi besar di pesisir dan kerusakan ekologis.
“Air yang keruh adalah sinyal pertama. Ketika kekeruhan meningkat, total padatan tersuspensi naik, cahaya matahari tak bisa masuk, dan fitoplankton tidak dapat berfotosintesis,” ujarnya.
Rantai makanan pun lumpuh; oksigen terlarut dalam air menurun tajam, dan ikan-ikan yang sensitif tidak mampu bertahan.
Dia menambahkan keberadaan tanggul laut menciptakan ruang perairan tertutup yang tidak lagi memiliki aliran memadai.
Akibatnya, suhu air naik dan salinitas menjadi tidak stabil, dua kondisi yang sangat mematikan bagi organisme laut. “Ikan punya batas toleransi. Ketika kisaran itu dilampaui, mereka kolaps,” kata Aris.
Kondisi diperparah oleh kenyataan bahwa area tersebut merupakan kolam retensi yang digunakan untuk menampung sisa material pembangunan tol.
Endi menyebut area itu sudah disepakati warga sebagai tempat penimbunan lumpur, namun efek ekologisnya tetap tak terelakkan.
Baca Juga: Progres Tol Semarang-Demak Seksi 1 Capai 52 Persen, Solusi Permanen Atasi Rob di Kaligawe-Sayung
Pesisir yang Tercekik Struktur Beton