Bener Meriah, wilayah utama penghasil kopi Gayo, sesungguhnya adalah daerah dengan potensi alami luar biasa.
Sekitar 62% wilayah kabupaten atau setara 120 ribu hectare, masuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), rumah bagi berbagai jenis flora-fauna sekaligus benteng ekologis untuk pertanian kopi.
Baca Juga: Ketika Logistik Terputus: Kisah Warga Berebut Harapan di Tengah Krisis Tapanuli dan Aceh
Namun data Global Forest Watch menunjukkan peringatan yang tidak bisa diabaikan:
Dalam dua dekade terakhir, Bener Meriah kehilangan sekitar 6 ribu hektare hutan. Ini setara denagn dua kali luas Kota Yogyakarta.
Tutupan hutan turun dari 110 ribu hektare pada 2001 menjadi hanya 104 ribu hektare pada 2023.
Jika hutan terus menyusut, kualitas lingkungan dataran tinggi Gayo akan berubah. Dan bersama itu, produktivitas serta cita rasa kopi Gayo pun berisiko menurun.
Karena itu, perlindungan hutan bukan lagi isu ekologi belaka, tapi juga merupakan persoalan ekonomi masyarakat.
Pemantauan Lanskap: Menjaga Kopi dari Angkasa
Untuk menjawab tantangan tersebut, sejak 2022 World Resources Institute (WRI) Indonesia menjalankan Inisiatif Pemantauan Lanskap di Bener Meriah.
Upaya ini melibatkan banyak pihak: Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Aceh Wilayah II dan III, Dinas Pertanian dan Pangan, hingga Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bale Redelong.
WRI memperkenalkan teknologi pemantauan modern, termasuk Radar for Detecting Deforestation (RADD) berbasis satelit Sentinel-1.
Sistem ini memberikan peringatan dini deforestasi hampir real-time dan dapat diakses gratis melalui Global Forest Watch atau aplikasi Forest Watcher.
Dengan teknologi ini, pemerintah dan masyarakat bisa mengetahui pembukaan lahan baru dalam hitungan hari, bukan menunggu ketika kerusakan sudah terlanjur meluas.