TITIKTEMU.CO - Praktisi hukum sekaligus Wakil Dekan Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta, Beniharmoni Harefa, meminta agar wafatnya Direktur Utama Bank BJB, Yusuf Saadudin, ditelusuri melalui penyelidikan komprehensif.
Ia menilai langkah ini krusial untuk menghindari munculnya spekulasi sekaligus menjaga akuntabilitas sebuah lembaga publik.
Beniharmoni mengungkapkan belasungkawa mendalam, namun mengakui bahwa kematian sang direktur yang terjadi setelah aktivitas bermain golf memunculkan sejumlah pertanyaan wajar dari masyarakat.
Baca Juga: MUI Terbitkan Fatwa Pajak Berkeadilan sebagai Respons Kenaikan PBB yang Dinilai Tidak Adil
Kejanggalan yang Memicu Pertanyaan Publik
Menurutnya, beberapa hal terasa janggal karena Yusuf Saadudin sebelumnya tidak menunjukkan gejala medis apa pun.
“Publik wajar bertanya-tanya, sebab almarhum wafat setelah bermain golf dan tidak ada riwayat sakit sebelumnya,” ujarnya kepada Kilat.com pada Sabtu, 22 November 2025.
Ia menegaskan bahwa desakan investigasi bukan bertujuan menyudutkan pihak mana pun, melainkan memastikan proses transparan yang menghasilkan jawaban tegas bagi publik.
Baca Juga: 20 Dokumen yang Dicari, 20 Kali Ditolak: Bonjowi vs UGM dan Misteri Ijazah Jokowi
Akuntabilitas Penting untuk Jaga Kepercayaan Publik
Beniharmoni menyebut, tanpa keterangan resmi, misteri penyebab kepergian pimpinan bank daerah terbesar di Indonesia itu akan terus menjadi bahan spekulasi.
Karena itu, ia mendorong aparat berwenang serta manajemen BJB membuka ruang bagi penyelidikan profesional dan memberikan klarifikasi yang diperlukan.
Baca Juga: Lift Kaca Pantai Kelingking Dibongkar: Dari Ambisi Wisata Mewah ke 5 Pelanggaran Beruntun
Ia menambahkan bahwa keterbukaan informasi merupakan bagian penting dari tata kelola perusahaan yang baik, terlebih karena Bank BJB adalah perusahaan terbuka yang harus menjaga kepercayaan nasabah, pemegang saham, dan stabilitas pasar.