“Ini tanda tanya besar bagi publik. Kok komisinya diisi oleh orang-orang yang justru dulu memimpin Polri yang harus direformasi?” jelasnya.
Ia menilai kehadiran nama-nama seperti Tito Karnavian, Listyo Sigit Prabowo, Idham Azis, Badrodin Haiti, dan Ahmad Dofiri membuat kesan bahwa reformasi Polri berjalan setengah hati.
“Tidak elok ketika mereka yang dulu memimpin Polri, sekarang harus memperbaiki. Pasti ada hal yang akan ditutup-tutupi,” imbuhnya.
Walk Out Saat Mediasi: Tanda Tidak Percaya pada Komisi Reformasi Polri
Sri Radjasa juga menyoroti aksi walk out yang dilakukan Roy Suryo, Tifauzia, Rismon, dan tokoh lain saat mediasi ijazah Jokowi pada 19 November 2025.
Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan bahwa para pihak tidak percaya pada Komisi Reformasi Polri.
“Walk out itu bukti bahwa tim reformasi tidak patut dipercaya,” tegasnya.
Baca Juga: Status Awas, Aktivitas Gunung Semeru Meningkat: Zona Bahaya Diperluas hingga 20 Km
Walk out terjadi setelah Ketua Komisi, Jimly Asshiddiqie, meminta para tersangka tidak memberikan pendapat selama pertemuan berlangsung.
Daftar Petinggi Polri dalam Komisi Reformasi
Dari total 10 anggota, lima merupakan mantan atau pejabat tinggi Polri:
- Jenderal (Purn) Tito Karnavian
- Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo
- Jenderal (Purn) Badrodin Haiti
- Jenderal (Purn) Idham Azis
- Jenderal (HOR) (Purn) Ahmad Dofiri
Keberadaan mereka dinilai Sri Radjasa menguatkan persepsi publik bahwa reformasi Polri tidak berjalan maksimal.***