TITIKTEMU.CO - Persaingan memperebutkan tahta Keraton Kasunanan Surakarta kembali mencuat usai dua putra Pakubuwono XIII sama-sama menyatakan diri sebagai penerus tahta bergelar Paku Buwono XIV.
Situasi ini memunculkan ketegangan baru di lingkungan kerabat keraton, seolah mengulang konflik panjang sejak 2004, ketika Keraton Solo untuk pertama kalinya mengalami dualisme kepemimpinan.
Ssuksesi di Keraton Solo bukan sekadar persoalan siapa yang berhak duduk di tahta, tapi juga berkaitan dengan legitimasi adat, dukungan keluarga besar, hingga peran abdi dalem dalam menjaga paugeran (aturan tradisi).
Kisruh yang terjadi hari ini merupakan rangkaian panjang polemik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Berikut rangkuman lengkap perjalanan konflik suksesi Keraton Solo dari masa ke masa.
Baca Juga: Jelang Jumenengan Pakubuwono XIV, Ini Deretan Kontroversi Gusti Purbaya
Wafatnya PB XII dan Munculnya Dua Raja (2004)
Kisruh suksesi Keraton Surakarta pertama kali mencuat pada 2004, setelah Pakubuwono XII (PB XII) wafat pada 12 Juni 2004.
Sang raja yang memerintah selama 59 tahun meninggalkan situasi rumit: PB XII tidak memiliki permaisuri. Dalam tradisi kerajaan Jawa, permaisuri menjadi penentu sahnya garis keturunan pewaris takhta.
Nah, tidak adanya permaisuri membuat aturan adat menjadi kabur. Kondisi ini membuka ruang munculnya dua klaim yang kemudian dikenal sebagai fenomena “raja kembar”, yaitu:
1. Hangabehi
Putra tertua PB XII dari selir ketiga.
Pada 31 Agustus 2004, Hangabehi mendeklarasikan diri sebagai raja dan memakai gelar Pakubuwono XIII. Ia memperoleh dukungan kuat dari kerabat dekat, termasuk Gusti Moeng, serta sebagian abdi dalem.
2. Tedjowulan
Putra PB XII dari selir lain.