TITIKTEMU.CO - Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, Jimly Asshiddiqie, memaparkan temuan awal setelah komisinya menerima berbagai masukan dari masyarakat. Menurutnya, problem yang dihadapi Polri sangat kompleks dan membutuhkan perubahan mendasar untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Komisi Percepatan Reformasi Polri mulai mengidentifikasi persoalan di tubuh kepolisian setelah membuka ruang partisipasi publik sejak dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto. Jimly menyebut tahap yang sedang dilakukan adalah fase “belanja masalah”, yakni pemetaan akar persoalan tata kelola Polri.
“Sekarang kami masih dalam tahap belanja masalah, jumlahnya tentu sangat banyak,” ujar Jimly pada Kamis, 13 November 2025.
Baca Juga: Longsor Cilacap Timbun 16 Rumah, 21 Warga Dilaporkan Hilang dan 2 Meninggal Dunia
Ia menegaskan bahwa masukan publik menjadi elemen penting dalam merumuskan arah reformasi Polri agar menjadi institusi yang semakin profesional, objektif, dan terbuka.
Intervensi Politik dan Bisnis Jadi Catatan Serius
Salah satu masukan penting datang dari Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang digagas oleh Sinta Nuriah. Jimly mengatakan bahwa berbagai persoalan tidak hanya berasal dari internal Polri, tetapi juga dari pengaruh eksternal.
Menurutnya, intervensi politik maupun kepentingan bisnis dapat mengganggu independensi polisi dan mengancam profesionalitas lembaga tersebut.
“Bagaimana menjaga polisi dari intervensi politik dan bisnis dari luar,” tegas Jimly.
“Jangan sampai polisi terpengaruh oleh kepentingan praktis itu,” lanjutnya.
Baca Juga: Rizky Ridho Masuk Nominasi FIFA Puskas Award 2025 Berkat Gol Spektakuler dari Jarak Jauh
Krisis Kepercayaan Publik Jadi Tantangan Utama
Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri, Otto Hasibuan, turut menyoroti menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat meski Polri telah menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari penegakan hukum hingga pelayanan publik.
Ia mempertanyakan mengapa kinerja yang besar tersebut tidak sejalan dengan persepsi masyarakat.
“Hampir semua tugas sudah dijalankan polisi, tapi kenapa masyarakat tetap belum percaya sepenuhnya?” ujar Otto.
“Ini yang sedang kami coba cari jawabannya,” lanjutnya.