nasional

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas dan Lava Pijar  

Senin, 3 November 2025 | 09:48 WIB
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas dan Lava Pijar. (BPPTKG)

Selain itu, teramati pula tiga kali guguran lava pijar ke arah yang sama dengan jarak maksimum mencapai 1.800 meter. Dari sisi kegempaan, terjadi dua kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 68–73 mm dan durasi antara 106 hingga 1.737 detik, serta 34 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–25 mm.

Kondisi visual menunjukkan asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi mencapai 100–150 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung dilaporkan cerah dengan angin lemah bertiup ke arah timur.

LBaca Juga: Mengenal Makam Imogiri, Peristirahatan Terakhir Raja-raja Mataram Islam Sejak Sultan Agung

Status Siaga Masih Berlaku

Dengan meningkatnya aktivitas ini, BPPTKG masih menetapkan status Level III atau Siaga untuk Gunung Merapi.

Potensi guguran lava dan awan panas masih mengarah ke sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km) serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Selain itu, lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif berpotensi menjangkau area dalam radius 3 kilometer dari puncak.

“Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya,” tegas Agus. Ia juga mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap potensi lahar dingin dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di sekitar Merapi.

Baca Juga: Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri Rabu 5 November, Sebelumnya Dikirab Menuju Loji Gandrung

Cuaca dan Aktivitas Warga Sekitar

Sejumlah warga di wilayah lereng Merapi seperti Cangkringan (Sleman), Magelang, dan Boyolali, mengaku sudah terbiasa dengan suara gemuruh dari puncak gunung. Meski begitu, sebagian masyarakat tetap bersiaga, terutama yang tinggal di dekat aliran sungai berpotensi bahaya.

Beberapa warga terlihat memantau perkembangan aktivitas gunung melalui radio komunikasi dan aplikasi pemantauan Merapi.

“Kalau sudah dengar bunyi keras dan awan tebal ke arah barat daya, kami langsung siaga. Biasanya petugas sudah memberi info lewat HT,” kata Slamet, warga dusun Turgo, Sleman.

Pihak BPBD DIY dan Jawa Tengah juga terus menyiagakan personel di pos pemantauan dan desa rawan bencana. Mereka memastikan jalur evakuasi dan tempat pengungsian siap digunakan apabila aktivitas gunung kembali meningkat.

Tanda Magma Masih Aktif

Halaman:

Tags

Terkini