nasional

Hujan Mikroplastik: 18 Kota Indonesia Tercemar, Jakpus Paling Parah

Jumat, 31 Oktober 2025 | 13:15 WIB
Ilustrasi Proses yang disebut atmospheric microplastic deposition membuat air hujan menjadi media baru pencemaran. (Pinterest @zarela)

TITIKTEMU.CO - Bayangkan hujan yang turun di atapmu bukan cuma air, tapi juga serpihan kecil plastik—molekul yang tak terlihat tetapi mengancam kesehatan dan lingkungan.

Penelitian terbaru dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) mengungkap fakta mengkhawatirkan: hujan kontaminasi mikroplastik terjadi di 18 kota/kabupaten Indonesia selama Mei–Juli 2025.

Baca Juga: Daftar Kelurahan Terdampak Penghentian Sementara Aliran Air PAM Jakarta

Jakarta Pusat: Epicentrum Partikel Plastik

Di antara semua wilayah yang diteliti, Jakarta Pusat mencatat angka tertinggi: 37 partikel mikroplastik per 2 jam per area sampling 9 cm, jauh melampaui kota lain seperti Malang yang hanya 2 partikel dalam waktu yang sama.

Lokasi sampling di Jakarta mencakup kawasan seperti Pasar Tanah Abang, yang dianggap hotspot karena lalu-lintas barang tekstil, lalu-lintas kendaraan tinggi, dan aktivitas bongkar muat yang melepaskan serat sintetis.

Dari Udara ke Butiran Hujan: Rute Mikroplastik

Peneliti menjelaskan bahwa serpihan plastik sintetis—serat pakaian, debu kendaraan, ban, hingga asap pembakaran sampah—melepas ke atmosfer, tertahan di udara, lalu “jatuh” lewat hujan. Proses yang disebut atmospheric microplastic deposition membuat air hujan menjadi media baru pencemaran.

Jenis polimer yang ditemukan pun beragam: poliester, nilon, polietilena, polipropilen, hingga karet sintetis seperti polibutadien.

Baca Juga: Lulus Doktor di UGM Hanya 2 Tahun 10 Bulan: Kisah Inspiratif Roro dan Filosofi Belajarnya

Dampak Tak Terlihat, Tapi Membayangi

Sekilas, hujan mikroplastik mungkin terdengar “invisibel”—tapi konsekuensinya riil.

Mikroplastik dibawah 5 mm bisa terhirup, tertelan, atau menempel di udara dan air minum kita.

Industri kesehatan menyoroti potensi efek jangka panjang seperti gangguan hormon, inflamasi, hingga kerusakan sel.

Halaman:

Tags

Terkini