Dalam pembicaraan itu, Syahganda juga membandingkan situasi ekonomi saat ini dengan era pemerintahan sebelumnya.
Baca Juga: Ini Panduan Itinerary Umrah Mandiri 9 Hari, Lengkap dengan Rute, Jadwal Ibadah, dan Strategi Hemat
Ia menggambarkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia ibarat luka lama yang bertahap dipulihkan.
Ia menilai kebijakan Prabowo mulai memperlihatkan pendekatan yang lebih fokus pada pemulihan ekonomi domestik.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa perkembangan tersebut tetap perlu dilihat secara objektif, tanpa berlebihan maupun sebaliknya.
Baca Juga: Letjen (Purn) Glenny Kairupan: Dari Kokpit Helikopter ke Kursi Dirut Garuda Indonesia
Stimulus Pemerintah Dinilai Dorong Perputaran Ekonomi
Terkait program bantuan pemerintah, Syahganda memandang stimulus ekonomi yang dikucurkan negara mampu membantu menjaga daya beli masyarakat.
Salah satunya melalui kebijakan fiskal serta kenaikan upah buruh yang berdampak langsung pada konsumsi.
Sebagai contoh, ia menyinggung kebijakan kenaikan upah buruh sebesar 6,5 persen.
Menurutnya, dampak dari kebijakan tersebut akan signifikan karena nilai konsumsi kelompok pekerja berpotensi meningkat.
Pemerintah juga telah meluncurkan stimulus ekonomi tambahan pada 17 Oktober 2025 berupa bantuan langsung tunai (BLT) dan program magang nasional untuk lulusan baru.
Kebijakan ini disebut menjadi salah satu cara memperluas kesempatan ekonomi bagi generasi muda.
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah Dipengaruhi Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya menegaskan bahwa situasi ekonomi berhubungan erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.