TITIKTEMU.CO - Di era digital sekarang, banyak orang merasa hidupnya seperti reality show yang harus tampil sempurna setiap hari.
Media sosial menjadi panggung besar tempat orang berlomba menunjukkan gaya hidup mewah.
Istilahnya: era flexing. Tapi di balik foto coffeeshop estetik, OOTD branded, dan liburan ke Bali atau Jepang, ada juga tekanan psikologis dan risiko finansial yang tidak bisa diabaikan.
Baca Juga: Umrah Mandiri Resmi Legal, Dahnil Anzar: Travel Tidak Akan Gulung Tikar, Ekosistem Tetap Dijaga
Apa Itu Flexing dan Kenapa Jadi Budaya?
Flexing adalah pamer kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup glamor. Fenomena ini bukan hal baru, tapi media sosial membuatnya seolah menjadi standar hidup.
Dari influencer sampai tetangga depan rumah, semua berlomba terlihat "berhasil".
Yang jadi masalah, flexing sering menciptakan illusion of success—tampak kaya di luar, tapi belum tentu dompetnya sehat.
Bahkan survei Bank Indonesia menunjukkan tren konsumsi masyarakat semakin naik karena dorongan sosial, bukan kebutuhan.
Baca Juga: Rp200 Triliun Mengalir ke Bank Himbara: Pemerintah Gas Ekonomi, Koperasi Desa Ikut Kebagian
Tekanan Sosial: Lelah Jadi Minimalis di Tengah Dunia Maximalist
Flexing menciptakan peer pressure baru. Misalnya:
Teman upload HP terbaru, kita jadi berpikir upgrade juga.