Jika proyek ini dipaksakan tanpa perencanaan matang, risiko finansialnya besar, terlebih utang KCJB yang masih menggantung.
“Kalau kita fokus hanya ke rute Surabaya, kesannya kita tidak peka terhadap kebutuhan pemerataan pembangunan wilayah,” tegasnya.
Dengan kata lain, pemerintah tidak ingin pembangunan Jawa menjadi prioritas tunggal, sementara wilayah luar Jawa masih kekurangan infrastruktur dasar.
Baca Juga: Ini Alasan Purwokerto Cocok Jadi Kota Impian untuk Slow Living dan Menikmati Pensiun
Harus Beri Manfaat untuk Daerah yang Dilalui
Menurut AHY, proyek ini hanya layak diteruskan jika benar-benar memberi nilai tambah bagi kawasan yang dilintasi.
Bukan hanya keretanya lewat, lalu selesai begitu saja.
Setiap kota transit harus dikembangkan agar ikut tumbuh ekonominya.
Caranya lewat konsep TOD (Transit Oriented Development)—pengembangan kawasan terintegrasi di sekitar stasiun.
“Jangan sampai jalur kereta hanya lewat tanpa manfaat. Kawasan transit harus jadi pusat ekonomi baru,” jelas AHY.
Itu berarti desain kawasan harus dipikirkan dari awal—tidak boleh asal bangun jalur.
Status Saat Ini: Belum Final
Bagi yang bertanya “Jadi lanjut nggak sih proyeknya?”, jawabannya belum diputuskan.
AHY menyebut pemerintah masih menghitung semua aspek, mulai dari finansial, tata ruang, hingga kelayakan bisnis.
Pemerintah juga membuka ruang dialog dengan banyak pihak: