Polusi Bukan Cuma Masalah Paru-Paru
Kota padat juga membawa persoalan yang tidak selalu terlihat. Polusi udara dan kebisingan ternyata ikut menjadi perhatian dalam riset kesehatan mental.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru yang mencakup 81 studi menemukan hubungan antara paparan polusi udara dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan. Hubungan tersebut terlihat pada paparan jangka pendek maupun panjang, meski kualitas bukti dan besarnya efek berbeda antarstudi.
Jadi, ketika seseorang pulang kerja dan berkata, “Otak gue rasanya sudah habis,” itu tidak selalu sekadar ungkapan dramatis.
Bukan Berarti Manusia Harus Kabur dari Kota
Menariknya, persoalannya bukan sesederhana kota = buruk dan desa = baik. Kota juga menyediakan pekerjaan, akses layanan kesehatan, pendidikan, komunitas, serta berbagai kesempatan sosial.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kota dirancang agar sesuai dengan kebutuhan otak manusia. Lebih banyak pepohonan, ruang publik yang nyaman, pengurangan kebisingan, akses berjalan kaki, dan lingkungan yang tidak terasa menekan bukan sekadar fasilitas tambahan.
Pada akhirnya, Jakarta mungkin tidak perlu dibuat lebih sepi. Tetapi manusia yang tinggal di dalamnya perlu diberi lebih banyak kesempatan untuk benar-benar merasa tenang.***
Artikel Terkait
Jangan Sampai Jadi Korban! TASPEN Perluas Kanal Resmi untuk Lawan Modus Penipuan
Dulu Ditolak Jadi Pramugari, Perempuan Papua Ini Malah Membawa Pulang Lisensi Airbus A320
Harga Emas Pekan Depan Bisa Naik-Turun Tajam, Ini Level yang Wajib Diperhatikan
Tom Holland Sampai Bingung: Ternyata Adegan Gila di The Odyssey Bukan CGI!
Tangis Anak di Sisi Jenazah Ayah Diduga Pencuri Ayam di Bali Viral, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan
Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?
Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?