TITIKTEMU.CO – Ketidakpastian ekonomi global yang terus meningkat dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dianggap belum cukup jika tidak dibarengi dengan penguatan sektor riil sebagai fondasi utama ketahanan ekonomi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto, menilai Indonesia perlu berani melakukan penyesuaian strategi agar tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal yang rentan terhadap gejolak global.
Menurut Agus, pembangunan ekonomi dapat dianalogikan seperti strategi dalam pertandingan sepak bola. Ketika pola permainan yang digunakan sudah tidak efektif menghadapi tantangan baru, maka diperlukan perubahan taktik untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Ia menjelaskan bahwa evaluasi strategi ekonomi bukan berarti mengabaikan capaian yang telah diraih selama ini. Sebaliknya, langkah tersebut diperlukan agar pembangunan nasional tetap relevan dalam menghadapi perubahan kondisi dunia yang semakin dinamis.
Pertumbuhan Tinggi Dinilai Belum Menjamin Ketahanan Ekonomi
Agus mengungkapkan bahwa selama beberapa dekade Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik melalui keterbukaan perdagangan, investasi, dan integrasi dengan pasar global. Namun di balik keberhasilan tersebut, masih terdapat sejumlah kerentanan struktural yang perlu dibenahi.
Salah satunya adalah ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku, mesin, komponen, dan teknologi impor. Kondisi ini membuat sektor industri dalam negeri mudah terdampak ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu.
Akibatnya, biaya produksi meningkat dan daya saing industri nasional ikut tertekan.
Selain itu, Agus juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap aliran modal asing sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Menurutnya, strategi tersebut memang dapat membantu menyediakan likuiditas dalam kondisi normal, tetapi menjadi risiko ketika terjadi gejolak ekonomi global.
Ia mengingatkan bahwa pengalaman krisis Asia 1997-1998 maupun berbagai turbulensi keuangan internasional menunjukkan bahwa ekonomi yang terlalu bergantung pada modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor.
Indonesia Perlu Menjadi Pengendali dalam Arus Globalisasi
Lebih lanjut, Agus menilai Indonesia selama ini cenderung menjadi peserta dalam arus globalisasi tanpa memiliki kapasitas domestik yang cukup kuat untuk mengendalikan arah perkembangannya.
Artikel Terkait
Gaji Wasit Piala Dunia 2026 Fantastis! Bisa Raup Rp1,7 Miliar, Belum Termasuk Bonus hingga Final
Profil Argentina di Piala Dunia 2026: Misi Lionel Messi Pertahankan Gelar dan Ukir Sejarah Baru untuk Albiceleste
Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2026: Meksiko vs Afrika Selatan di Stadion Azteca, El Tri Bidik Kemenangan Perdana
Menkeu Purbaya Sebut Kenaikan Harga Pertamax Tak Picu Inflasi Tinggi, Dampaknya Dinilai Sangat Terbatas
Usai Ajukan Justice Collaborator, Sony Sonjaya Ungkap Dugaan Keterlibatan 26 Tokoh dalam Kasus Korupsi BGN