Perwakilan JICA Indonesia, Takeda Sachiko, sebelumnya menjelaskan bahwa program makan sekolah di Jepang mencakup berbagai aspek, mulai dari penyusunan menu, pengelolaan kebersihan, distribusi makanan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat.
Meskipun demikian, Takeda menegaskan bahwa setiap negara memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, konsep serupa perlu disesuaikan dengan kondisi serta tantangan yang ada di Indonesia.
Fokus pada Efisiensi dan Keberlanjutan
BGN menegaskan bahwa berbagai opsi yang sedang dikaji bertujuan memastikan Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia di sekolah dinilai dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi beban anggaran negara sekaligus memperluas manfaat program bagi masyarakat.
Dengan berbagai masukan dari DPR, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya, skema MBG berbasis kantin sekolah kini menjadi salah satu alternatif yang paling banyak diperbincangkan dalam pengembangan program gizi nasional ke depan.***
Artikel Terkait
Nanik Deyang Resmi Jadi Kepala BGN, Beberkan Latar Pendidikan hingga Alasan Libatkan Militer dalam Program MBG
Harta Kekayaan Silmy Karim Jadi Sorotan usai Ditetapkan Tersangka, Capai Rp234 Miliar Lebih
Silmy Karim Ditahan KPK dalam Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Jabatan Wamen Imipas Dinonaktifkan
KPK Ungkap Kode Khusus Pembagian Uang dalam Kasus Dugaan Pungli Izin Tinggal WNA yang Jerat Silmy Karim
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Klaim Kantongi Nama Tokoh yang Terlibat Kasus MBG