"Cukup" Adalah Kata Paling Revolusioner di 2026 — Kenapa Orang Indonesia Susah Mengucapkannya?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 31 Mei 2026 | 16:39 WIB
Ilustrasi kata "cukup" justru menjadi pilihan paling revolusioner (Pinterest @vesvese)
Ilustrasi kata "cukup" justru menjadi pilihan paling revolusioner (Pinterest @vesvese)

Padahal keduanya tidak sama.

Merasa cukup bukan berarti berhenti bertumbuh. Merasa cukup berarti tidak menggantungkan harga diri pada pencapaian berikutnya.

Seseorang bisa tetap bekerja keras, membangun bisnis, mengejar pendidikan, dan mengembangkan karier sambil tetap berkata:

"Saya bersyukur dengan posisi saya hari ini."

Kalimat itu bukan tanda kemunduran. Justru itu bentuk kedewasaan emosional yang semakin langka.

Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Haruskah Masyarakat Panik? Ini Penjelasan yang Jarang Dibahas

Budaya Perbandingan Membuat Kita Lupa Bersyukur

Media sosial telah mengubah cara manusia melihat kehidupannya sendiri.

Dulu, seseorang membandingkan dirinya dengan lingkungan terdekat. Kini, dalam hitungan menit, kita bisa membandingkan hidup dengan ribuan orang dari berbagai negara.

Masalahnya, yang terlihat biasanya hanya versi terbaik dari kehidupan orang lain.

Ketika setiap hari melihat pencapaian orang lain, muncul perasaan bahwa apa yang kita miliki selalu kurang.

Rumah terasa kurang besar.

Karier terasa kurang sukses.

Penghasilan terasa kurang tinggi.

Bahkan kebahagiaan terasa kurang menarik.

Perlahan-lahan, standar "cukup" menjadi semakin jauh dari kenyataan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X