TITIKTEMU.CO-Self-care dulu berarti tidur cukup, makan teratur, dan punya waktu untuk bernapas tanpa tekanan.
Sekarang self-care berubah menjadi rak skincare penuh, retreat mahal, kopi organik Rp70 ribu, dan playlist healing yang bahkan tidak sempat didengar sampai habis.
Industri wellness tumbuh sangat cepat karena berhasil menjual satu hal yang paling dicari manusia modern: rasa tenang.
Baca Juga: Kamu Bukan Malas, Kamu Cuma Lelah: Mengapa Gila Kerja Sebenarnya Adalah Alarm Trauma Pikiran
Masalahnya, rasa tenang kini dikemas seperti produk langganan bulanan.
Kalau tidak ikut tren wellness terbaru, seseorang dibuat merasa kurang peduli pada diri sendiri.
Media sosial memperparah semuanya.
Kita melihat orang meditasi di vila estetik, yoga saat matahari terbit, journaling dengan buku kulit premium, lalu tanpa sadar merasa hidup sendiri terasa berantakan.
Baca Juga: Lelah saat mau santai? Kenali leisure anxiety, paradoks me time yang malah bikin stres para wanita.
Self-care akhirnya berubah menjadi perlombaan visual, bukan kebutuhan emosional.
Ironisnya, banyak orang justru makin lelah setelah mengejar gaya hidup sehat versi internet.
Ada yang memaksakan ikut kelas pilates mahal meski dompet menipis.
Baca Juga: Self-Care Viral TikTok vs Self-Care Nyata: Kenapa Kamu Tetap Lelah Meski Sudah Me Time?
Ada yang membeli skincare belasan langkah padahal tidur mereka cuma empat jam sehari.
Ada juga yang sibuk “healing” ke luar kota tetapi tetap cemas sepanjang perjalanan.
Industri wellness diam-diam membuat manusia percaya bahwa ketenangan bisa dibeli.
Artikel Terkait
Bukan Malas, Kamu Hanya Lelah: Cara Menyembuhkan Mental Exhaustion Secara Perlahan
Self-Care Viral TikTok vs Self-Care Nyata: Kenapa Kamu Tetap Lelah Meski Sudah Me Time?
Tren Smart Home 2026: Investasi Hemat Energi atau Sekadar Pemborosan Gaya Hidup?
Bukan Malas Tapi Lelah, Ini Alasan Gen Z Indonesia Pilih Hidup Cukup daripada Kejar Karier Gila-gilaan!
Lelah saat mau santai? Kenali leisure anxiety, paradoks me time yang malah bikin stres para wanita.
Kamu Bukan Malas, Kamu Cuma Lelah: Mengapa Gila Kerja Sebenarnya Adalah Alarm Trauma Pikiran