Ekonomi Meroket 5,61% tapi Gaji Numpang Lewat? Ini Alasan Dompetmu Makin Kering!

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Jumat, 22 Mei 2026 | 20:25 WIB
Ilustrasi Ekonomi tumbuh 5,61 persen tapi dompet tipis? Ini alasannya (Desain AI )
Ilustrasi Ekonomi tumbuh 5,61 persen tapi dompet tipis? Ini alasannya (Desain AI )

TITIKTEMU.CO-Pernahkah Anda membaca berita utama di media massa yang menyatakan bahwa ekonomi negara kita sedang tumbuh pesat, katakanlah di angka 5,61 persen, namun di saat yang sama Anda justru sedang memutar otak untuk membayar tagihan bulanan?

Rasanya ada yang aneh ketika angka-angka di televisi terlihat begitu hijau dan positif, sementara saldo di rekening bank Anda justru semakin merah dan mengenaskan.

Di sinilah letak ironi terbesar dalam kehidupan masyarakat kelas menengah hari ini, sebuah teka-teki visual di mana angka statistik makro yang gemilang terasa sangat berjarak dengan realita isi dompet sehari-hari.

Baca Juga: Tren Frugal Living Menjamur, Mengapa Banyak Kafe dan Brand Fesyen Mulai Putar Otak?

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen itu nyata adanya, tetapi angka itu adalah sebuah akumulasi global yang dihitung dari total seluruh aktivitas ekonomi, termasuk belanja pemerintah, investasi skala besar, dan keuntungan korporasi raksasa.

Ketika sebuah pabrik besar beroperasi atau ada proyek infrastruktur triliunan rupiah selesai dibangun, angka pertumbuhan ekonomi otomatis akan melonjak naik.

Masalahnya, lonjakan angka di atas kertas tersebut tidak secara otomatis meluncur masuk ke dalam rekening para pekerja kantoran, buruh pabrik, atau pemilik usaha kecil di pinggir jalan.

Baca Juga: PT Pamapersada Nusantara Buka Lowongan Fresh Graduate 2026, Gaji Kompetitif dan Berkarier di Tambang Kelas Dunia

Bagi masyarakat kelas menengah, pertumbuhan ekonomi makro sering kali terasa seperti sebuah pesta besar di rumah tetangga, di mana kita bisa mendengar dentum musiknya yang meriah tetapi sama sekali tidak diundang untuk menikmati hidangannya.

Kita justru menjadi pihak yang paling rentan terkena dampak sampingan dari pertumbuhan tersebut, salah satunya adalah kenaikan harga barang pokok atau inflasi yang sering kali bergerak jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji tahunan.

Ketika harga beras, minyak goreng, biaya pendidikan anak, hingga tarif transportasi terus merangkak naik, maka daya beli riil kita sebenarnya sedang mengalami penurunan yang cukup drastis.

Baca Juga: Terjebak Tren Gentle Parenting dan Isme Lainnya? Ini Alasan Label Gaya Asuh Justru Merusak Ibu dan Anak

Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa kelas menengah adalah kelompok yang paling mandiri sekaligus paling sedikit mendapatkan jaring pengaman sosial dari pemerintah.

Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial atau subsidi langsung, tetapi mereka juga tidak cukup kaya untuk mengabaikan fluktuasi harga akibat inflasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X