Di Tukka, Tiga Pekan Pasca Bencana Listrik Masih Padam dan Krisis Air Bersih

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Kamis, 18 Desember 2025 | 14:36 WIB
Di Tukka, Tiga Pekan Pasca Bencana Listrik Masih Padam dan Krisis Air Bersih. (Instagram @reginasafri  dan  yosloic)
Di Tukka, Tiga Pekan Pasca Bencana Listrik Masih Padam dan Krisis Air Bersih. (Instagram @reginasafri dan yosloic)

TITIKTEMU.CO - Sudah lebih dari tiga pekan sejak bencana longsor melanda Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, namun pemulihan belum sepenuhnya dirasakan warga.

Hingga pertengahan Desember 2025, aliran listrik di sejumlah kampung di Kelurahan Sipange masih padam, sementara krisis air bersih ikut membebani kehidupan sehari-hari warga terdampak.

Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Akses jalan yang tertutup material longsor juga menjadi kendala utama, sehingga perbaikan jaringan listrik belum bisa dilakukan secara maksimal.

Baca Juga: Jalan Terputus Pascabencana, Warga Sibolga Harus Jalan Kaki 5 Jam Lewati Pegunungan Demi Bantuan

Listrik Padam Sejak Longsor Terjadi

Listrik di Sipange padam sejak longsor pada Selasa, 25 November 2025. Hingga Rabu, 17 Desember, aliran listrik belum menyala.Tiang-tiang listrik roboh, jalur distribusi tertutup tanah dan bebatuan.

Kepala Lingkungan 2 Gunung Tua, Sipange, Romario Sitompul (36), mengatakan warga terpaksa hidup dalam gelap selama hampir 23 hari.

Untuk menuju ke pusat aktivitas terdekat seperti Pandan, warga harus berjalan kaki karena kendaraan sulit melintas.

“Sudah hampir tiga minggu listrik tidak sampai ke kampung-kampung. Kalau mau ke arah Pandan, kami harus jalan kaki,” ujar Romario di Posko Bantuan Sipange.

Genset Jadi Andalan Warga

Dalam kondisi darurat, sebagian warga mengandalkan genset untuk kebutuhan dasar. Namun, genset digunakan terbatas, hanya untuk penerangan malam hari, memasak nasi, dan mengisi daya ponsel.

Romario menjelaskan warga membeli sendiri genset. Ada yang patungan antarkeluarga, ada pula bantuan dari kerabat yang merantau ke luar daerah.

“Pokoknya genset itu diusahakan warga. Ada yang beli sendiri, ada yang iuran, ada juga dibantu saudaranya di rantau,” katanya.

Namun, penggunaan genset bukan solusi jangka panjang. Selain boros bahan bakar, suara bising dan keterbatasan daya membuat aktivitas warga tetap sangat terbatas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X