3.500 rumah rusak berat
4.100 rumah rusak sedang
20.500 rumah rusak ringan
271 jembatan rusak
282 fasilitas pendidikan terdampak
Kerusakan infrastruktur ini memperburuk kondisi evakuasi dan distribusi bantuan, terutama di wilayah-wilayah yang lokasinya jauh dari pusat kota atau berada di daerah perbukitan.
Penyaluran Logistik Lewat Udara
Dalam situasi darurat, distribusi bantuan logistik untuk Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan mencapai 100%, namun sejumlah daerah masih sulit ditembus.
Daerah seperti Mandailing Natal, Kota Gunungsitoli, dan Nias Selatan masih terkendala akses darat. Karena itu, BNPB terus mengandalkan jalur udara dengan mengoperasikan tiga helikopter milik BNPB dan TNI AD.
Beberapa sorti juga dilakukan khusus menuju wilayah terisolasi seperti Sopotinjak dan Muara Siabu yang hingga saat ini masih sulit dijangkau melalui jalur darat.
Untuk mempercepat penanganan bencana, pemerintah pusat memperkuat bantuan personel dan alat utama sistem senjata (alutsista).
BNPB menurunkan sedikitnya 20 personel di Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, sementara TNI dan Polri mengerahkan sekitar 500 personel tambahan untuk mendukung evakuasi dan distribusi logistik.
Baca Juga: Bencana di Sumatera, BNPB: 442 Orang Meninggal, 402 Hilang, Operasi SAR Dikebut
Bencana terbesar di Tahun 2025
Melihat skala dampaknya, bencana banjir dan longsor di Sumatera-Aceh menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Artikel Terkait
Bencana Sumatra 2025: 303 Orang Meninggal, BNPB Ungkap Lonjakan Korban dan Tantangan Berat di Lapangan
Peringatan Kemenkes: Ancaman Penyakit Pascabanjir Mengintai, Posko dan RS Darurat Sudah Disiagakan di Sumatra
Ketika Logistik Terputus: Kisah Warga Berebut Harapan di Tengah Krisis Tapanuli dan Aceh
Daftar Nomor Darurat Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Perjuangan Menembus Tanah Terisolir: BNPB Kerahkan Pasukan Jalan Kaki dan Helikopter untuk Selamatkan Warga Tapanuli–Sibolga