Dia menilai, skandal ini meninggalkan luka mendalam di hati umat, terutama keluarga besar NU yang selama ini mempercayakan kepemimpinan pada PBNU.
“Bagi warga NU, haji itu ibadah suci yang penuh pengorbanan. Ketika ada pihak yang mempermainkan kuota demi kepentingan pribadi, itu sama saja mengkhianati amanah umat,” ujarnya.
Dia menambahkan marwah PBNU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia tidak boleh ternodai oleh kepentingan segelintir orang. Karena itu, diperlukan langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan warga NU.
Baca Juga: Drama Kuota Haji 2024: Dari Depok ke Kemenag, KPK Buka ‘Peti Rahasia’ Rp 1 Triliun
Gus Yahya Diminta Mundur
Kiai Asyhari mendesak Rais Aam PBNU mengambil langkah strategis. Sebagai pemimpin tertinggi dalam struktur organisasi, Rais Aam memiliki kewenangan penuh untuk menjaga kehormatan jam’iyyah.
Asyhari bahkan secara terbuka meminta agar Gus Yahya dinonaktifkan, bahkan diberhentikan dari posisinya sebagai Ketua Umum PBNU.
“Saya memohon kepada Rais Aam menggunakan kebijaksanaannya. Nonaktifkan atau berhentikan Gus Yahya. Percepat muktamar untuk mengganti kepemimpinan PBNU,” ujarnya.
Baca Juga: Begini Klarifikasi Ustaz Khalid Basalamah Soal Dugaan Korupsi Kuota Haji
Menanti Langkah PBNU
Kini, bola panas berada di tangan pimpinan tertinggi PBNU. Umat menunggu sikap yang bijak, tegas, dan berpihak pada kepentingan bersama, bukan pada kepentingan individu.
Apakah Gus Yahya akan mundur secara sukarela, atau Rais Aam akan mengambil keputusan strategis, semuanya akan menjadi catatan sejarah baru dalam perjalanan NU.***
Artikel Terkait
Menelusuri Transformasi Pelaksanaan Haji dari Masa ke Masa
DPR Protes Keras Wacana Jatah Kuota Haji Indonesia Dipangkas 50 Persen untuk Tahun 2026
Kapan Kuota Haji 2026 Diumumkan? Ini Penjelasan Resmi Kemenag dan Otoritas Arab Saudi