TITIKTEMU.CO, Perhelatan lomba fashion show daur ulang sampah anorganik bertema ‘Karnaval’ menarik perhatian masyarakat Kota Yogyakarta. Termasuk peserta dari Kelurahan Tahunan yang mengusung tema ‘Srikandi’ karya dari Bank Sampah Kemuning Bersinar.
Busana yang ditampilkan merupakan hasil desain dari Retno Woelandari warga Tahunan. Retno mengubah limbah yang awalnya tak bernilai menjadi produk kreatif yang bermanfaat dan estetis.
Daur ulang ini biasanya melibatkan pengumpulan, pembersihan, dan pengolahan sampah untuk kemudian dijadikan material dasar bagi karya seni.
Dimana, koran yang sudah tidak terpakai dapat dilebur atau diolah menjadi bahan untuk membuat manik-manik yang unik. Walaupun menggunakan daur ulang sampah anorganik yang ada di wilayahnya, Retno sedikit memodifikasi dan memberikan sentuhan kreativitas.
Baca Juga: MANTAP. Tiga TPST di Bantul Mulai Beroperasi, Olah Sampah Jadi Kompos Hingga RDF
Sehingga, mampu mengubah botol plastik bekas dan saset minuman menjadi busana yang unik dan memiliki warna-warna cerah yang menarik dan sedap dipandang.
Kegiatan lomba fashion show ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.
Lomba ini berhasil menarik perhatian 36 peserta dari perwakilan Kelurahan se-Kota Yogyakarta untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Dengan tema ‘Karnaval’ ini para peserta diberi tantangan untuk mengubah sampah plastik seperti koran bekas, saset minuman, kardus, botol bekas, menjadi karya yang fungsional dan bernilai estetik tinggi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah sebenarnya bisa memiliki nilai estetika yang tinggi jika kita mau berusaha dan berinovasi,”jelas Retno
Baca Juga: Kerennya Kalau Mahasiswa UGM Kenalkan Program Olah Sampah Jadi Energi Listrik
Sementara itu, saat ditemui di sela-sela acara, Ketua Tim Kerja Pengembangan Sumber Daya Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta, Nada Mutiara Putri mengungkapkan, kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk memberikan pemahaman bahwa setiap tindakan kecil mereka bisa berkontribusi pada lingkungan, termasuk dengan mendaur ulang sampah yang sering dianggap sebagai barang tidak berharga.
“Ini merupakan lomba yang kami adakan setiap tahunnya untuk mendorong kreativitas warga dalam mengelola dan mendaur ulang sampah jadi kreatif dan menarik serta bernilai ekonomi tinggi,”jelas Nadia.
Ada yang membuat busana dari daur ulang sampah menyerupai burung, ada juga kreasi yang tak kalah menarik yakni busana dengan mengambil tokoh ‘peri’. Tentunya peserta membuat busana tersebut dari sisa-sisa saset minuman dan aksesoris fesyen dari kertas bekas ataupun botol bekas yang dicetak ulang.
“Kreativitas ini menjadi bukti bahwa sampah bisa menjadi bahan dasar yang bisa menghasilkan barang-barang berguna jika diproses dengan cara yang benar,”ungkapnya.
Artikel Terkait
Program 'Yok Kita GAS', Komitmen BRI Peduli untuk Wujudkan Indonesia Bebas Sampah
Sapa Anak Kos, Kegiatan Perangkat Kelurahan Sosialisasikan Pengolahan Sampah
Kerennya Kalau Mahasiswa UGM Kenalkan Program Olah Sampah Jadi Energi Listrik
MANTAP. Tiga TPST di Bantul Mulai Beroperasi, Olah Sampah Jadi Kompos Hingga RDF