Berpiring-piring aneka lauk bersusun-susun apik siap untuk disantap. Ada gulai tunjang yang berbahan bagian daging dari kaki sapi, atau gulai tambusu, usus sapi yang diisi adonan tahu dan telur mirip sosis dan tentu saja gulai otak.
Ada lagi dendeng batokok, yaitu daging sapi diiris-iris tipis dan lebar kemudian dipukul-pukul (batokok) dengan cobek. Lalu dikeringkan sebelum akhirnya digoreng berkelindan dengan bumbu dan kulit cabai merah.
Jika masih pusing memilihnya, mintakan saja kepada pelayan untuk menyajikan aneka lauk tadi di meja tempat kita makan.
Baca Juga: 4 Film Baru Tayang di Bioskop Minggu Ini, Dari Marvel Studios Hingga James Bond, Cuss….
Di sini ada semacam prosesi unik dipamerkan si pelayan saat membawa aneka lauk tadi, namanya manatiang. Menurut pengajar Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang Asmar Yulastri, manatiang yaitu membawa aneka lauk yang bersusun-susun di dalam piring, mirip seperti di palung tadi.
Hebatnya, saat manatiang ini, si pelayan hanya mengandalkan tangan sebelah kiri untuk membawa aneka lauk yang bisa mencapai 13 jenis sekali bawa dan membentuk 2-3 tingkat susunan di lengannya.
Ketika sampai di meja pemesan nasi Padang, tangan kanan si pelayan dengan cekatan segera menurunkan susunan piring berisi aneka lauk dan sambal ke atas meja.
Baca Juga: Sistem Pengenalan Wajah Face Recognition Akan Diterapkan di Bandara Soekarno Hatta
Maka tersajilah di hadapan kita parade warna mencolok khas rempah seperti merah, oranye, kuning, hijau dan cokelat tua berasal dari aneka lauk tadi. Wanginya pun sudah tentu menggugah selera.
Hargai dan Hormati Tamu Tanpa Memandang Status
Ternyata ada filosofi tinggi di balik cara penyajian makanan bersusun yang membutuhkan keahlian tinggi, yaitu bermakna kecepatan. Sebagai bentuk menghargai tamu, makanan mesti dihidangkan dengan cepat agar mereka tidak menunggu terlalu lama.
Menyajikan seluruh menu makanan di hadapan pengunjung juga punya filosofi yang tinggi. Dalam buku Cita Rasa Nusantara karya William Wongso disebutkan bahwa kebiasaan ini menjadi cara untuk menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau tidak mengenal perbedaan antara si kaya dan si miskin.
Baca Juga: 7 Pahlawan Perempuan Sebelum Kemerdekaan, dari Laksamana Malahayati Sampai Rasuna Said
Setiap orang disajikan makanan yang sama dan bebas melihat serta memilih yang diinginkan. Dan inilah sejatinya cinta kepada sesama yang ditunjukkan urang awak dalam sepiring nasi padang.
Selamat berburu nasi padang. Tambuah ciek, Uda!***
Artikel Terkait
7 Warung Bakmi Jawa di Solo Paling Top, Tak Bisa Pindah ke Lain Warung!
7 Kuliner Ekstrim di Jateng dan Yogyakarta, dari Sate Landak Sampai Rica-rica Bulus
7 Kuliner Khas Klaten, Bikin Ketagihan!
7 Wisata Kuliner Malam Jogja, Bikin Nagih!
Mak Nyussss….Nikmatnya Lontong Tuyuhan, Saksi Syiar Islam di Rembang