TITIKTEMU,CO, Pernah mendengar nasi grombyang, kuliner khas Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah? Atau malah sudah pernah mencicipinya? Kuliner berbahan utama nasi putih dan daging sapi atau kerbau berbumbu rempah ini, baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Yuk kita cicip. Nama grombyang ini berasal dari bahasa Pemalang yang berarti berarti mengapung di permukaan atau bergoyang-goyang. Dalam penyajiannya nasi grombyang, komposisi kuah lebih banyak ketimbang nasinya, sehingga nasi dapat mengapung dan bergoyang-goyang di antara kuah. Nama grombyang tidak bisa didapati di kota-kota lain, sangat ikonik dan unik.
Tidak diketahui dengan pasti kapan makanan khas ini mulai diciptakan. Konon, nasi grombyang sudah ada sejak 1960-an. Pada waktu itu penjual nasi grombyang menjual dagangannya secara tidak menetap, tetapi berkeliling kampung. Salah seorang pewaris nasi grombyang, Waridin menceritakan, dirinya sudah mulai membuka usaha jual nasi grombyang sejak 1978, yang sebelumnya ikut membantu pamannya, Warso dalam usaha yang sama.
“Awalnya ikut paman jual nasi grombyang, akhirnya buka sendiri sejak tahun 1978 sampai sekarang. Dulu dari harga 15 perak (Rp15), sampai sekarang sudah Rp16 ribu per porsi,” katanya, di warung miliknya Jalan Gatot Subroto nomor 35 Kecematan Pemalang.
Menurut Waridin, membuat nasi grombyang lebih rumit ketimbang soto daging ataupun daging kuah lainnya. Mulai memasak daging, mengiris, ditambah menu kaldunya yang terbuat dari kluwak, serundeng serta lemak daging itu sendiri. Kuahnya pun dibumbui rempah, seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, kemiri, dan lainnya. Kemudian sebelum disajikan ditaburi irisan onclang dan bawang merah.
“Kalau dulu pakai daging kerbau, tapi karena sekarang sulit akhirnya pakai daging sapi. Butuh dua sampai tiga jam untuk membuat nasi grombyang,” jelasnya.
Waridin mengaku bangga usahanya melanjutkan warisan resep nenek moyangnya itu berbuah manis, setelah nasi grombyang ditetapkan menjadi salah satu WBTB.
“Saya senang dan bangga ini tercatat sebagai Warisan Budaya,” paparnya.
Kebanggaan lain diceritakannya ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mampir dan menikmati nasi grombyangnya. Saat itu ia tidak tahu, karena orang nomor satu di Jawa Tengah itu berpenampilan seperti pelanggan umum.
“Perasaanya alhamdulillah, saya sebagai pedagang kecil didatangi pejabat itu kebanggan, apalagi Pak Gubernur orangnya sederhana, tidak mau ditonjolkan. Setelah itu, tambah ramai, dikenal nasi grombyang yang didatangi Gubernur, dan disyuting pakai tangan sendiri (vlog),” terangnya
Sebenarnya bukan produk nasi grombyangnya yang menyandang predikat WBTB. Namun, proses pengolahannya yang membuat makanan itu istimewa. Nasi grombyang masuk WBTB dalam kategori teknologi tradisional.
“Memang bentuknya benda, masuk Warisan Budaya Tak Benda ini mengacu lebih pada kategori tekniologi tradsional. Melihat perkembangan ke sini, makanan khas banyak yang diklaim daerah atau bahkan negara lain. Sehingga kami punya kewajiban mengusulkan nasi grombyang, itu asline sega grombyang,” urai Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Ismun Hadiyono.
Artikel Terkait
Mencicipi Kupat Tahu Peturunan di Kutoarjo Yang Menyegarkan Tanpa Bumbu Kacang
Ahay Ini Rasanya Memadukan Kupat Glabed Dan Sate Blengong Khas Brebes
Yuk Ah, Sarapan Nasi Penggel Di Kebumen
Menikmati Rujak Teplak Yang Segar Di Slawi
Brekecek Pathak Jahan, Kenikmatan Kepala Ikan Dari Cilacap
Mencoba Soto Kletuk Di Blora, Gurih Tapi Ada Bunyi Tuk Saat Makan