TITIKTEMU.CO - Pfizer mengumumkan bahwa obat eksperimentalnya Paxlovid (PF-07321332) secara signifikan mengurangi risiko rawat inap terkait COVID-19 atau kematian karena sebab apa pun sebesar 89%.
Obat yang diberi nama PAXLOVID ini sudah dilakukan uji klinis terkontrol plasebo pada penderita Covid-19 yang berisiko tinggi terkena penyakit parah.
Pfizer berencana untuk mengirimkan data sebagai bagian dari pengajuan bergulir yang sedang berlangsung ke FDA untuk mencari otorisasi penggunaan darurat (EUA) sesegera mungkin.
Baca Juga: Quote dan Ucapan di Hari Pahlawan, Bikin Hidup Lebih Semangat
Hasil menunjukkan bahwa dalam keseluruhan populasi penelitian hingga hari ke-28, tidak ada kematian yang dilaporkan pada pasien yang diobati dengan Paxlovid, dibandingkan dengan 10 kematian pada kelompok plasebo.
Pfizer mencatat bahwa efek samping pengobatan (AE) terjadi pada 19% pasien dalam kelompok Paxlovid dibandingkan dengan 21% subjek dalam kelompok placebo.
Perusahaan pembuat obat ini mengharapkan untuk memproduksi lebih dari 180.000 bungkus Paxlovid pada akhir tahun.
Baca Juga: 4 Film Baru Tayang di Bioskop Minggu Ini, Dari Marvel Studios Hingga James Bond, Cuss….
Sebenarnya Pfizer saat ini memiliki “kapasitas 500 juta pil,” yang bisa diartikan akan membantu 50 juta perawatan.
Sementara Merck & Co. dan Ridgeback Biotherapeutics ‘Lagevrio (Molnupiravir) menjadi antivirus oral pertama yang disetujui untuk pengobatan COVID-19.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat tersebut mengurangi risiko rawat inap atau kematian sekitar 50% pada orang dewasa berisiko, yang tidak dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 ringan hingga sedang.
Baca Juga: Ini Jadwal Tes Psikologi Calon Karyawan PT KAI Yogyakarta Mulai 11 November, Jangan Kelewat
Pemerintah Indonesia telah mengupayakan agar 600 hingga satu juta tablet Molnupiravir bisa tiba di Indonesia pada akhir 2021.
"(Produsen) Molnupiravir sama seperti yang membuat Ivermectin. Apakah ada saingannya? Ada. Baru keluar hari ini dari Pfizer, tapi apakah dia sudah sejauh Molnupiravir mendapatkan persetujuannya? Masih agak tertinggal di belakang," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX yang diikuti dari Youtube DPR RI di Jakarta, Senin.