Ia bahkan menyindir kualitas bahan yang digunakan penyedia makanan MBG. “Itu daging olahan, entah apa produknya. Rasanya seperti karton, warnanya pink. Anak-anak disuruh makan begitu, sungguh ironis,” ucapnya.
Menuju Perbaikan atau Sekadar Seremonial?
Gelombang kritik menunjukkan bahwa MBG tak bisa hanya mengandalkan distribusi masif tanpa memperhatikan aspek gizi, kualitas, dan keberlanjutan pangan.
Kini publik menuntut agar program MBG benar-benar menjadi solusi jangka panjang, bukan sekadar seremoni politik yang justru menimbulkan masalah baru, mulai dari keracunan massal hingga pilihan menu yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak Indonesia.***
Artikel Terkait
Jadwal Sharing Time Ustaz Hanan Attaki 2025: Dari Lombok hingga Samarinda, Catat Tanggalnya!
Respons Puan Maharani, PKS, hingga Demokrat soal Jokowi Ajak Relawan Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode
Naik Kelas Bersama Yamaha XMAX TechMAX 2025: Skuter Premium dengan Fitur Canggih di IMOS
Misteri Dalang Demo Agustus 2025: Polri Buru Mastermind, Dugaan Pendana Gelap hingga Spekulasi Aktor Asing
BGN Tutup Dapur SPPG Penyebab Keracunan Massal MBG, Bentuk Tim Investigasi Khusus