Menurut Ganjar, informasi-informasi dari BMKG juga harus disampaikan hingga tingkat desa sehingga masyarakat benar-benar siaga dan waspada.
“Maka tugas pertama adalah, ayo baca info BMKG setiap hari. Sebarkan, setelah itu latihan, sehingga kalau kita bisa tahu informasi dengan data sainsnya BMKG, harapan kita, kita bisa menggunakan hal-hal yang sifatnya tradisional,” ujarnya.
Baca Juga: KA Logawa Beroperasi Lagi, Anak Usia di Bawah 12 Tahun Sudah Diperbolehkan Naik Kereta Api Kembali
Hal-hal tradisional itu antara lain, ilmu titen atau peka terhadap tanda alam. Misalnya, jika hujan deras dan durasinya lama, maka harus segera bergerak untuk mengungsi.
“Satu, ilmu titen, niteni kalau sudah deres, segera pergi. Ini punya potensi longsor, minggir, atau kalau sudah terjadi, titir atau (bunyikan) kentongan, dan sebagainya,” tambah Ganjar.
Menurut Ganjar, cara-cara itu, penting dilakukan sehingga kondisinya akan aman dan tidak sampai timbul korban jiwa.
Baca Juga: 'LUDRUK' Oleh: Trias Kuncahyono (Wartawan Senior, Penulis Buku)
Ganjar juga mengimbau agar seluruh masyarakat Jawa Tengah siaga.
“Itu cara, yang menurut saya penting. Terima kasih BMKG, hadir memberikan informasi kepada Jawa Tengah, dan sekaligus, ini peringatan untuk seluruh Jawa Tengah. Hati-hati, ini sudah Oktober, November, puncaknya Desember, dan kita semua mesti siap,” tegas Ganjar.***
Artikel Terkait
Memasuki Musim Hujan, Ini Tiga Tanaman Herbal yang Ampuh Meningkatkan Kekebalan Tubuh
5 Resep Minuman Kopi Ini Cocok Dinikmati Saat Hujan, Bikin Badan Hangat dan Rileks
Awas! Peringatan BMKG, Perairan Jawa Timur Potensi Gelombang Tinggi
Antisipasi Tsunami, BMKG Luncurkan SIRITA
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Ajak Warga Antisipasi Tiga Ancaman saat Musim Hujan Memuncak