Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Busan: Awal Baru Redakan Ketegangan Perang Dagang AS–China

photo author
Achmad Zainur Roziqin, TitikTemu.co
- Kamis, 30 Oktober 2025 | 16:42 WIB
Menyoroti pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di tengah situasi perang tarif dagang.  (Instagram.com / @realdonaldtrump - @xi_jinping_)
Menyoroti pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping di tengah situasi perang tarif dagang. (Instagram.com / @realdonaldtrump - @xi_jinping_)

TITIKTEMU.CO - Di tengah meningkatnya ketegangan perang dagang, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhirnya bertatap muka di Busan, Korea Selatan, pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Pertemuan bersejarah ini menjadi momentum penting dalam upaya meredakan konflik ekonomi antara dua kekuatan terbesar dunia tersebut.

Upaya Membangun Perdamaian Dagang

Setelah berbulan-bulan saling menerapkan kebijakan tarif yang mengguncang pasar global, kedua pemimpin tampak berusaha menampilkan gestur damai.

Baca Juga: Skandal Impor Ilegal dan Dugaan Suap di Pelabuhan: Menkeu Purbaya Janji Sikat Mafia Thrifting demi Lindungi Industri Tekstil Nasional

Momen ini juga menjadi puncak dari rangkaian kunjungan Trump ke Asia yang dimulai sejak akhir pekan lalu, mencakup Malaysia dan Jepang, sebelum akhirnya mendarat di Korea Selatan dengan satu misi besar: membuka peluang kesepakatan dagang baru dengan Beijing.

Dalam pertemuan tersebut, Trump menyebut negosiasi kali ini sebagai salah satu yang paling menantang sepanjang karier politiknya. Meski begitu, ia tetap optimistis mampu membangun kembali kepercayaan di antara kedua negara.

“Saya yakin ini akan menjadi pertemuan yang sangat sukses. Tapi dia (Xi) adalah negosiator yang sangat tangguh,” ujar Trump seperti dikutip Reuters, Kamis (30/10/2025).

Baca Juga: Industri Asuransi Syariah di Persimpangan: Tantangan Modal, Konsolidasi, dan Kepercayaan Publik

Respons Xi Jinping: Gesekan Itu Wajar

Presiden Xi Jinping menanggapi dengan nada diplomatis. Ia menyebut bahwa gesekan antara dua negara besar adalah hal yang wajar, namun yang terpenting adalah bagaimana kedua pihak dapat mengelola perbedaan dan memperkuat kemitraan jangka panjang.

“Adalah hal normal bagi dua negara besar untuk mengalami gesekan, tapi yang utama adalah bagaimana kita bisa terus berupaya menjadi mitra dan sahabat,” kata Xi.
“Saya bersedia bekerja sama dengan Presiden Trump untuk membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan Tiongkok–AS,” tambahnya.

Pernyataan Xi tersebut memberi sinyal bahwa Beijing masih membuka pintu negosiasi, meskipun tensi perdagangan dan aksi saling balas tarif masih berlangsung.

Baca Juga: Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Pemerintah Tak Akan Naikkan Pajak Sebelum Ekonomi Tumbuh di Atas 6 Persen

Latar Belakang: Aksi Saling Balas Tarif

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Achmad Zainur Roziqin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X