hukrim

Kasus Dugaan Pelecehan Massal di KPI, Ini nama-nama yang Disebut Korban dalam Suratnya

Jumat, 3 September 2021 | 22:45 WIB
Ilustrasi perundungan dan pelecehan massal di KPI. (Pixabay)

TITIKTEMU.CO

Merasa buntu dengan bingung dengan perundungan dan pelecehan massal di KPI yang diterimanya, MS curhat ke teman kerjanya di KPI Pusat. MS juga konsultasi dengan temannya yang pengacara, dan aktivis LSM sampai akhirnya dia menulis surat terbuka.

Dalam suratnya, MS kecewa dengan polisi dan yang tidak merespon laporannya. Dia juga kecewa karena KPI Pusat tempatnya bekerja tidak memberi sanki para pelaku.

MS pun menyebut nama-nama temannya yang melakukan perundungan dan pelecehan massal terhadapnya. Lengkap dengan tempa kejadian dan tanggalnya.

Baca Juga: Polisi Akan Memanggil Para Terduga Pelaku Pelecehan Massal di Komisi Penyiaran Indonesia KPI

Karena perundungan terus terjadi dan saya makin lemah, sering sakit, terhina tiap saat, pada 2020 saya kembali ke Polsek Gambir, berharap laporan saya diproses dan para pelaku dipanggil untuk diperiksa.

Tapi di kantor polisi, petugas tidak menganggap cerita saya serius dan malah mengatakan, "Begini saja pak, mana nomor orang yang melecehkan bapak, biar saya telepon orangnya."

Saya ingin penyelesaian hukum, makanya saya lapor polisi. Tapi kenapa laporan saya tidak di-BAP? Kenapa pelaku tak diperiksa? Kenapa penderitaan saya diremehkan? Bukankah seorang pria juga mungkin jadi korban perundungan dan pelecehan seksual?

Baca Juga: Ini Surat Terbuka Korban Perundungan dan Pelecehan Massal di KPI, Ditujukan untuk Presiden Jokowi

Saya tidak ingin mediasi atau penyelesaian kekeluargaan. Saya takut jadi korban balas dendam mereka, terlebih kami berada dalam satu kantor yang membuat posisi saya rentan. Kepada siapa lagi saya mengadu? Martabat saya sebagai lelaki dan suami sudah hancur.

Bayangkan, kelamin saya dilecehkan, buah zakar saya bahkan dicoret dan difoto oleh para rekan kerja, tapi semua itu dianggap hal ringan dan pelaku masih bebas berkeliaran di KPI Pusat.

Wahai Polisi, dimana keadilan bisa saya dapat? Apakah harus jadi perempuan dulu supaya polisi serius memproses kasus pelecehan yang saya alami? Apakah tangan saya harus dibacok sampai putus atau perut saya diiiris berdarah dulu baru penganiayaan yang saya alami diperhatikan orang lain?

Ketidakpercayaan atau ketidakseriusan orang-orang terhadap apa yang saya alami yang membikin saya makin frustasi dan stres. Seolah saya makhluk paling hina dan tidak ada gunanya di muka bumi.

Pada Oktober 2020, saya juga mengirim pesan ke Pengacara kondang Hotman Paris dan Mentalist Deddy Corbuzier untuk meminta tolong via DM Instagram. Tapi sayang, mereka berdua tidak merespon. Mungkin mereka sibuk dan tak punya waktu membantu saya yang hanya karyawan rendahan di KPI Pusat.

Halaman:

Tags

Terkini