Pemberontakan Trunojoyo
Satu pemberontakan terhadap Amangkurat yang dianggap paling seimbang adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo. Pangeran pangeran dari Madura ini nekat menyerbu keraton Mataram di Olered pada 1677. VOC bahkan sampai harus menurunkan pasukannya untuk membantu Amangkurat menggempur pasukan Trunojoyo.
Namun, 28 Juni 1677, pasukan Trunojoyo berhasil menggempur pasukan Mataram-VOC, sekaligus meluluhlantakkan Keraton Plered. Amangkurat sendiri telah melarikan diri menuju Batavia untuk mencari perlindungan Belanda.
Dalam pelariannya, Amangkurat jatuh sakit, dan kemudian meninggal. Babad Tanah Jawi mencatat kematian Sang Raja dipercepat oleh air kelapa beracun dari putranya sendiri, Mas Rahmat.
Masa pemerintahan Amangkurat I memang dikenal sebagai zaman paling kelam dalam sejarah Mataram. Para pengikut setia Sultan Agung sudah kecewa sejak awal penobatannya menjadi raja Mataram.
Sejarawan Merle C Ricklefs dalam War, Culture, and and Economy in Java 1677-1726 (1993), menggambarkan Amangkurat I sebagai penguasa paling brutal, dan tanpa sedikit pun keberhasilan selama memerintah.
“Jika Sultan Agung menaklukkan, menggertak, membujuk, dan bermanuver, Amangkurat I menuntut dan membantai.” (hlm. 31).
Hampir tidak ada perhatian terhadap keseimbangan politik. Amangkurat I terus-menerus membangun kekuasaan demi kepentingan pribadi. Putra raja besar Sultan Agung itu juga dianggap tidak memiliki kualitas kebajikan seorang raja.
Kitab peramal masa depan, Serat Jaya Baya, melukiskan Amangkurat I dengan metafora negatif: “Kalpa sru semune kenaka putung” atau masa kelaliman yang diibaratkan dengan kuku yang putus -banyaknya petinggi dan panglima kerajaan yang dibunuh karena bertentangan dengan raja.
Amangkurat I, menurut Soemarsaid Moertono dalam State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century (1968), adalah “raja yang istimewa lalimnya”.
Pasca kematian Amangkurat I, VOC menuntut pembayaran atas biaya perang . Berdasarkan perjanjian 1678, kawasan Priangan jatuh ke tangan Belanda. Sejak itu kekuasaan Mataram mulai melemah. (*)