TITIKTEMU.CO, Masjid An Nur Diponegoro adalah sebuah tempat ibadah yang terletak di Kampung Menyanan Kecil, kawasan Pecinan, Semarang. Selaras namanya yang berarti cahaya, keberadaan masjid ini bak lentera bagi muslim yang tengah mengais rezeki di jantung Tiongkok Kecil.
Masjid An Nur Diponegoro, begitu nama yang terpampang di spanduk yang terpasang pada dinding wudhu ikhwan. Bukan tanpa alasan, takmir masjid menambah nama Pangeran Selarong itu. Konon, masjid itu adalah bekas tempat bersujud dan lokasi persembunyian Diponegoro.
Ihwal itu diceritakan oleh Takmir Masjid An Nur, Sumarno. Konon, berdasar cerita yang ia warisi dari petugas masjid sebelumnya.
Baca Juga: Masjid Tiban Wonokerso Wonogiri Yang Jadi Jejak Wali Songo
“Ya itu saya diceritakan ya, jadi dulu pas waktu ditemukan (tahun 1960an) ada bekas tempat sujudnya. Kemudian ceritanya juga di situ dulu buat sembunyi Pangeran Diponegoro. Nah jadinya dinamakan itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, saat ditemukan masjid masih dalam kondisi memprihatinkan. Lantaran, lama tak dipakai, dan tertutup tembok.
“Lantas ada orang yang dulu mengaku bermimpi diberi petunjuk, adanya bangunan itu. Namun sayang, saat ini saya tidak tahu lagi ada bukti (petilasan). Cuma, ada kayu blandar, yang (diduga) peninggalan jaman dulu,” ujarnya.
Dari wujud surau yang hanya 4×4 meter persegi, kini telah diperbesar dimensinya hingga 10×22 meter. Statusnya kini pun telah menjadi bangunan cagar budaya. Sekarang, Masjid An Nur menjadi tujuan bagi pekerja muslim di sekitar Pecinan, terutama saat Salat Jumat.
Baca Juga: Masjid Darussalam di Dusun Kedunggudel Jadi Saksi Perlawanan Diponogoro
Kisah Masjid An Nur itu pun sempat menarik perhatian mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bahkan, orang nomor satu di Jateng itu menyempatkan Salat Jumat di masjid tersebut. Ganjar menilai saat ini semangat toleransi di wilayahnya terjaga dengan baik.
“Menurut saya menarik dan ini sebuah pertunjukan yang menurut saya ya perlu selalu dirawat dijaga. Sehingga yang etnis Tionghoa dan etnis Jawa, etnis Arab, apapun yang ada tenyata bisa hidup rukun ada dan ini bukan 10 tahun atau 20 tahun, tapi sudah ratusan tahun. Yang begini-begini penting untuk ditampilkan kepada publik karena kita butuh merawat itu,” jelas Ganjar.
Bahkan saat azan Jumat yang terdengar keras, dari pantauannya, tidak terlihat adanya warga sekitar yang merasa terganggu. “Tadi pas azan keras mereka-mereka sekitar tidak merasa terganggu. Asyik aja gitu. Ini bentuk yang bagus yang muslim mesti hormat,” ungkap dia.
Artikel Terkait
Wisata Religi Ke Makam Ki Gede Sala , Mengenal Sejarah Juga
Menengok Masjid Sunan Pakubuwono X Di Boyolali
Masjid Tiban Wonokerso Wonogiri Yang Jadi Jejak Wali Songo
Masjid Darussalam di Dusun Kedunggudel Jadi Saksi Perlawanan Diponogoro