TITIKTEMU.CO-Istilah work from home semula terdengar seperti kemewahan yang diimpikan banyak pekerja kantoran.
Namun bagi jutaan remote worker berusia 24 hingga 40 tahun, impian itu perlahan berubah menjadi jebakan psikologis yang melelahkan.
Fenomena ini bukan sekadar kelelahan kerja biasa, melainkan sebuah kondisi burnout akut yang belum memiliki nama resmi dalam kamus psikologi.
Kita bisa menyebut fenomena hilangnya batas antara ruang personal dan profesional ini sebagai Borderland Burnout.
Kondisi ini paling nyata dirasakan oleh mereka yang terpaksa bekerja di dalam hunian dengan luas terbatas, seperti kamar kos atau apartemen studio.
Ketika kasur tempat Anda melepas penat hanya berjarak satu langkah dari laptop tempat Anda mencari nafkah, fungsi rumah sebagai tempat istirahat otomatis runtuh.
Baca Juga: Lelah saat mau santai? Kenali leisure anxiety, paradoks me time yang malah bikin stres para wanita.
Setiap sudut ruangan kini justru memancarkan aura tekanan kerja, tenggat waktu, dan rentetan pesan instan dari atasan.
Ironisnya, banyak pekerja tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami Borderland Burnout karena tidak ada istilah formal yang mendefinisikannya.
Mereka hanya merasa cemas setiap kali melihat meja kerja, atau merasa bersalah saat mencoba memejamkan mata di malam hari.
Ketiadaan nama resmi membuat para korban merasa sendirian dan menganggap rasa lelah tersebut sebagai bentuk ketidakmampuan mereka dalam mengelola waktu.
Padahal, akar masalahnya terletak pada otak kita yang gagal melakukan asosiasi bawah sadar bahwa rumah adalah zona aman untuk memulihkan energi.
Artikel Terkait
Self-Care Viral TikTok vs Self-Care Nyata: Kenapa Kamu Tetap Lelah Meski Sudah Me Time?
Tren Frugal Living Menjamur, Mengapa Banyak Kafe dan Brand Fesyen Mulai Putar Otak?
Bukan Malas Tapi Lelah, Ini Alasan Gen Z Indonesia Pilih Hidup Cukup daripada Kejar Karier Gila-gilaan!
Lelah saat mau santai? Kenali leisure anxiety, paradoks me time yang malah bikin stres para wanita.
Kamu Bukan Malas, Kamu Cuma Lelah: Mengapa Gila Kerja Sebenarnya Adalah Alarm Trauma Pikiran
Tinggal di Rumah Kecil, Tapi Hatinya Lapang: Kisah Keluarga Urban yang Memilih Slow Living
Pindah ke Kota Kecil Bukan Kalah — Tren 'Slow Living Migration' yang Diam-Diam Mengubah Peta Urban Indonesia