TITIKTEMU.CO-Pernahkah Anda duduk di kubikel kantor, menatap layar komputer yang menyala, namun pikiran Anda sepenuhnya kosong dan dada terasa sesak?
Di sekeliling Anda, rekan kerja sibuk mengetik dan lalu lalang, sementara Anda berjuang keras menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam kepala.
Fenomena ini nyata terjadi setiap hari di berbagai ruang kerja formal di Indonesia, di mana ribuan karyawan terpaksa memakai "topeng produktivitas" hanya karena mereka takut dicap lemah atau tidak profesional.
Baca Juga: Kamu Bukan Malas, Kamu Cuma Lelah: Mengapa Gila Kerja Sebenarnya Adalah Alarm Trauma Pikiran
Ada sebuah asumsi keliru yang mengakar kuat di lingkungan korporat kita bahwa mencari bantuan profesional seperti datang ke psikolog atau konselor adalah bukti bahwa seseorang sudah kehilangan akal sehat.
Stigma kuno ini terus hidup, berbisik dari satu meja ke meja lain, membuat layanan kesehatan mental menjadi hal yang paling dihindari oleh para pekerja.
Padahal, pergi terapi sebenarnya sama normalnya dengan mendatangi dokter gigi saat geraham Anda mulai berdenyut nyeri atau berkonsultasi ke dokter umum ketika tubuh Anda diserang demam tinggi.
Baca Juga: Bosan Itu Obat: Rahasia Mengembalikan Fokus dan Kreativitas yang Hilang Akibat Candu Konten
Data dari survei kesehatan global sering kali menunjukkan bahwa mayoritas pekerja di usia produktif, yaitu dua puluh lima hingga empat puluh lima tahun, mengalami tingkat stres kerja yang sangat tinggi akibat beban target dan budaya selalu siaga.
Sayangnya, ketakutan akan penilaian negatif dari atasan atau bagian sumber daya manusia membuat banyak karyawan memilih untuk memendam masalah mereka sendiri hingga berujung pada kejenuhan total.
Mereka khawatir bahwa jujur tentang kondisi kesehatan mental akan menghambat kenaikan karier, menurunkan kepercayaan tim, atau bahkan berujung pada pemutusan hubungan kerja.
Baca Juga: Lelah saat mau santai? Kenali leisure anxiety, paradoks me time yang malah bikin stres para wanita.
Bagi para manajer dan profesional sumber daya manusia, sudah saatnya kita mengubah sudut pandang dan melihat isu ini dengan kacamata yang lebih manusiawi serta empatik.
Karyawan yang membutuhkan sesi konseling bukanlah beban perusahaan yang tidak produktif, melainkan aset berharga yang sedang berupaya menyembuhkan diri agar bisa berfungsi kembali dengan optimal.
Artikel Terkait
Self-Care Viral TikTok vs Self-Care Nyata: Kenapa Kamu Tetap Lelah Meski Sudah Me Time?
Tren Frugal Living Menjamur, Mengapa Banyak Kafe dan Brand Fesyen Mulai Putar Otak?
Tren Smart Home 2026: Investasi Hemat Energi atau Sekadar Pemborosan Gaya Hidup?
Bukan Malas Tapi Lelah, Ini Alasan Gen Z Indonesia Pilih Hidup Cukup daripada Kejar Karier Gila-gilaan!
Tren Anti-Tren 2026: Kenapa Perabot Rotan dan Kayu Jati Lokal Kembali Merajai Rumah Modern?
Lelah saat mau santai? Kenali leisure anxiety, paradoks me time yang malah bikin stres para wanita.