TITIKTEMU.CO - Di tengah kesibukan hidup modern yang serba cepat, istilah me time semakin sering terdengar.
Banyak orang kini mulai menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk diri sendiri, baik untuk beristirahat, menjalani hobi, atau sekadar menjauh sejenak dari tekanan rutinitas.
Jika dulu me time kerap dianggap sebagai kemewahan, kini berbagai penelitian menunjukkan waktu untuk diri sendiri adalah kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Baca Juga: Menikmati Slow Living di Wonogiri: Hidup Tenang di Kota yang Kerap Dipandang Sebelah Mata
Kebutuhan Me Time
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep me time semakin relevan seiring meningkatnya tekanan kerja dan gaya hidup yang kompetitif.
Fenomena hustle culture yang mendorong seseorang terus produktif membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur. Akibatnya adalah stres, kelelahan emosional, bahkan burnout.
Sejumlah studi akademik terbaru menegaskan batapa pentingnya me time atau memberikan waktu untuk diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu penelitian, Me-time and Well-being: Rethinking Balance in the Modern Work-Life Landscape (2025), menyebut me time berfungsi sebagai ruang untuk pemulihan, pengembangan diri, hingga aktualisasi diri.
Ini berarti, kebutuhan akan waktu pribadi bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi bagian dari mekanisme alami manusia untuk menjaga keseimbangan psikologis.
Baca Juga: Slow Living 2026: Hidup Santai Tapi Lebih Berani Bereksperimen Tanpa Takut Gagal
Didukung Banyak Penelitian
Penelitian lain di Indonesia juga menguatkan hal ini. Studi mengenai work-life balance menunjukkan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental.
Tanpa jeda seperti me time, individu cenderung lebih rentan terhadap tekanan mental yang berkepanjangan.
Artikel Terkait
Mengenal Kafe Slow Bar yang Lagi Ngetren, Demi Menikmati Ngopi Lebih Intim
Rekomendasi 5 Slow Bar Kafe Paling Asyik di Jogja, Menikmati Kopi Terbaik dan Belajar Gratis!
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Slow Living di Jogja: Menikmati Hidup Melambat, Tapi Tidak Murah
Solo: Kota dengan Ritme Hidup Lambat, Tempat Ideal untuk Slow Living?