Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan menetap:
Jika Takut Ulat, Lebih Baik Pikir Ulang
Gunungkidul identik dengan pohon jati, dan setiap pergantian musim, ulat jati akan bermunculan di mana-mana. Ulat-ulat bergelantungan di pepohonan, bahkan bisa menempel di badan saat berkendara.
Buat kalian yang fobia ulat, tinggal di Gunungkidul bisa menjadi pengalaman yang menegangkan dan menjadi teror setiap hari.
Tidak Bisa Nongkrong Malam
Berbeda dengan kota yang ramai hingga dini hari, sebagian besar wilayah Gunungkidul terasa sangat sepi pada malam hari. Minimnya penerangan di jalan membuat aktivitas malam kurang nyaman dan cukup berisiko.
Buat kalian yang hobi nongkrong di warung kopi hingga larut, suasana malam di Gunungkidul mungkin terasa terlalu gelap dan sunyi.
Tidak Cocok untuk Penggemar Mal dan Hiburan Modern
Gunungkidul sampai sekarang belum memiliki mal. Aktivitas hiburan khas kota hampir tidak ada. Hanya ada beberapa pusat perbelanjaan sederhana di area perkotaan, selebihnya suasana pedesaan sangat dominan.
Jika kalian ingin tinggal di desa, tapi juga membutuhkan hiburan modern untuk melepas stres, mungkin akan cepat bosan.
Bukan Tempat Ideal untuk Pekerja WFH
Bbekerja dari rumah di desa memang menyenangkan. Namun realitanya cukup rumit. Rutinitas sosial seperti kerja bakti, hajatan, rasulan, atau kunjungan ke tetangga sakit sering kali menghambat fokus kerja.
Di desa, ada norma tidak tertulis bahwa warga harus ikut bersosialisasi. Jika kamu tetap bekerja di rumah saat ada tetangga meninggal, kamu bisa dianggap kurang peduli, dan itu bisa jadi masalah.
Gunungkidul memang mempesona: suasana tenang, udara segar, masyarakat ramah, dan biaya hidup murah. Namun, menjalani slow living di sini butuh kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi dengan budaya lokal.***
Artikel Terkait
5 Kota Terbaik untuk Slow Living, Bukan Jogja atau Solo!
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Ini Alasan Purwokerto Cocok Jadi Kota Impian untuk Slow Living dan Menikmati Pensiun
Slow Living itu Tidak Sama dengan Bemalas-malasan
Mimpi Slow Living: Benarkah Hidup di Desa Bakal Selalu Nyaman?
Slow Living: Hidup di Desa itu Indah, Tapi Tidak Selalu Mudah
Slow Living di Temanggung: Hidup Tenang dan Damai, Tak Semua Sempurna
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup
Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega