Antara Realita dan Stoisisme: Bisakah Tenang Benar-Benar Dibeli dengan Self-Care?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 30 Oktober 2025 | 18:23 WIB
Ilustrasi antara ketika tenang jadi komoditas dan tren stoicisme (Pinterest @stoic_minds_channel)
Ilustrasi antara ketika tenang jadi komoditas dan tren stoicisme (Pinterest @stoic_minds_channel)

TITIKTEMU.CO - “Tenang itu mahal.” Kalimat ini sering terdengar di media sosial, biasanya disertai foto lilin aromaterapi, secangkir teh herbal, dan caption tentang self-care Sunday.

Tapi benarkah ketenangan bisa dibeli lewat produk atau aktivitas tertentu?

Kita hidup di masa ketika healing dan self-care bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi juga gaya hidup yang dipasarkan.

Dari sheet mask hingga retreat spiritual, semuanya dikemas sebagai “jalan menuju ketenangan”.

Namun, di balik itu, muncul pertanyaan besar: apakah ketenangan yang dibeli itu sungguh nyata, atau hanya jeda sementara dari kekacauan batin?

Baca Juga: Mental Health di Tempat Kerja: Menjaga Waras di Tengah Target dan Deadline yang Tak Kenal Ampun

Stoisisme: Ketenangan yang Tumbuh dari Dalam, Bukan dari Etalase

Filosofi Stoisisme menawarkan perspektif berbeda. Bagi para Stoic seperti Marcus Aurelius dan Seneca, tenang bukan hasil dari pelarian, tapi buah dari penerimaan.

Mereka percaya bahwa ketenangan sejati datang ketika kita mampu membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak.

Stoisisme tidak menolak self-care, tapi mengajarkan keseimbangan. Mandi dengan garam aromatik boleh saja, tapi jangan lupa: ketenangan tidak datang dari air hangat, melainkan dari pikiran yang jernih.

Jadi, alih-alih berusaha “membeli” tenang, Stoic mengajak kita untuk melatih tenang — melalui kesadaran diri, pengendalian emosi, dan penerimaan terhadap realita yang tidak selalu ramah.

Baca Juga: Abadi Nan Jaya Tembus 10 Top Netflix Global, Ditonton 11 Juta Kali, Apa Menariknya Film Ini?

Realita: Dunia Tidak Akan Berhenti, Tapi Kita Bisa Melambat

Mari jujur: hidup modern sering kejam. Target kerja, ekspektasi sosial, dan tekanan finansial membuat banyak orang terus berlari tanpa arah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X